Sad Ending?? {part 1 of 2}

•Januari 20, 2012 • 4 Komentar

Tittle : Sad Ending?? {part 1 of 2}

Main cast : Kim Syhae, Chae Kyuki, Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Other cast : Han Yevi and member Suju

————————————————-

Syhae masuk ke apartement Kyuki dengan buru-buru kemudian mencari sosok pemilik tempat itu. Setelah menengok ke beberapa ruangan akhirnya dia menemukannya di balkon sedang menengadahkan tangannya ke udara. Matanya terpejam menikmati udara yang lembut membelai wajahnya yang oriental.
“Yya! Neo micheosseo?? Apa yang kau lakukan, hah? Tidak kah kau memikirkannya terlebih dahulu?” Syhae langsung to the point memarahi Kyuki.
“Aku bahkan sudah merencanakannya jauh-jauh hari, Sy~ya,” jawabnya santai.
“Geotjimal. Kau mungkin ahli dalam mengusili orang lain, tapi kau tak pandai berbohong.”
“Kalau itu keputusanmu, aku juga akan meninggalkan Hae,” ancam Syhae.
“Ada apa denganmu? Kenapa justru kau yang ribut? Ini urusanku dengan Kyu, dan ini keputusan kami. Tidak usah ikut campur,” bentak Kyuki, kini menatap sahabatnya tajam.
“Bagaimana bisa aku tidak ikut campur? Aku telah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu, Kyuki~ah,” jawab Syhae tak kalah kerasnya.
“Berhentilah menjadi bayang-bayangku, Kim Syhae. Kau berhak untuk mendapatkan kebahagiaan,” Kyuki kembali menatap langit yang perlahan mulai senja.
“Aku akan merelakannya pergi. Karena aku tak kan sanggup melihatnya tersiksa olehku. Pekerjaanku yang mengharuskanku terbang ke sana kemari sungguh membuatnya gantung,” lanjutnya lagi.
“Apa kau yakin kalau dia tersiksa, hah? Dia menerimamu apa adanya, bahkan dengan resikomu sebagai pramugari telah ia terima bertahun-tahun lalu. Dia setia denganmu, Kyuki~ah. Apa kau rela menghempaskannya begitu saja?” Syhae berkaca-kaca memelas pada Kyuki agar membatalkan niatnya untuk putus dengan Kyuhyun.
“Kurasa, itulah keputusanku, setidaknya untuk sejauh ini aku belum ingin merubahnya.” Kyuki mencoba untuk setegar mungkin dihadapan temannya. Tidak rela tentunya. Ia begitu mencintai Cho Kyuhyun selama bertahun-tahun, bahkan pertunangan mereka sudah direncanakan. Tapi entah mengapa sepulangnya dia dari penerbangan ke Roma, Kyuki memiliki pemikiran yang seperi itu. Bahkan selama ini mereka nampak baik-baik saja.
“Arasseo. Kuharap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu ini,” ucap Syhae lalu pergi meninggalkan temannya itu. Syhae sendiri malah berpiikir lebih bodoh dari Kyuki. Dia mengancam akan meninggalkan Donghae juga jika Kyuki berpisah dengan Kyuhyun. Ini lebih konyol, karena Syhae dan Donghae statusnya sudah bertunangan.
+_+

“Chagiya!!” Donghae mendelik setelah kekasihnya itu berbicara.
“Nee, mian. Aku tak bisa melihat Kyuki bersedih sementara aku bersenang-senang atas hubungan kita.
“Tapi kenapa kita yang kena imbasnya?” Donghae tidak terima dengan keputusan Syhae yang menyangkutpautkan urusan Kyuki dengan kisah cintanya.
“Apa kau tega melihat Kyuhyun merasa iri jika melihat kebersamaan kita?”
“Aku__ Lanjutkan membaca ‘Sad Ending?? {part 1 of 2}’

If You Come Back Again

•Desember 6, 2011 • 4 Komentar

FF oneshoot SyhaeTittle     : If You Come Back Again

Cast       : Lee Donghae

Kim Syhae

Cameo  : Super Junior

Chae Kyuki

Han Yevi

Nam Goong Min as Chang Junha

Genre   : Romantic

====================================================

 

Donghae menundukkan kepala, mencoba untuk bertahan. Setidaknya hingga lagu ini berakhir. Dia tidak ingin malam ini rusak karena suaranya yang parau jika menangis. Menyanyikan lagu In My Dream bersama lead vocal Suju dan juga Sungmin itu bukan perkara mudah. Jika sedikit saja Donghae kehilangan nada, dia akan siap-siap mendapat evaluasi dari sang Raja Vocal, Kim Jongwoon. Dia manusia aneh yang paling gencar memberikan konseling masalah vocal pada member Super Junior yang lain. Semua itu dia lakukan semta-mata untuk kebaikan Super Junior sendiri.

Riuh Elf membahana bersama lightstick biru safir andalan mereka. Karena merekalah, Donghae tak ingin membuat mereka kecewa. Elf adalah napas dari setiap member Super Junior.

Oneul geudael dashi bol sooman iddamyuhn, geuruhl soo iddamyuhn, doraomyuhn….

[If I could only see you again today, if I could do it again, if you came back again….]

Kyuhyun mengayati betul part terakhirnya. Hingga akhirnya Donghae mendapatkan bagiannya. Dengan mata terpejam, entah itu untuk penghayatan agar mendapatkan feel-nya atau Donghae sedang menahan air matanya, dia mencoba untuk memaksimalkan potensi suaranya yang khas di telinga Elf, memberikan persembahan terbaik untuk Elf yang haus akan fans service mereka.

Hanbuhnman ne gyuhte jamdeul soo iddamyuhn, geuruhl soo iddamyuhn…

[If you slept by my side just once more, if it happened again…]

Dia menahannya hingga akhirnya lagu itu berakhir dengan sempurna. Ia bergegas lari ke backstage. Dengan napas tersengal-sengal dia duduk di kursi di ujung ruangan.

“Hae~ya, gwenchana??” tanya Leeteuk cemas melihat Donghae yang memasuki backstage terburu-buru. Tak lama masuk pula Ryeowook, Kyuhyun, Yesung dan juga Sungmin. Sementara Donghae masih tertunduk diam tak menjawab pertanyaan leadernya itu.

Leeteuk memandang Yesung meminta penjelasan apa yang terjadi pada Donghae saat di panggung tadi. Namun Yesung hanya menggeleng seperti biasa, pertanda kalau Donghae sedang teringat kekasihnya Kim Syhae.

“Ah, joha.” Ucap Leeteuk tak bersuara kearah Yesung. “Donghae~ya, istirahatlah sebentar, masih ada satu VCR dan perform dari Kyuhyun. Semoga setelah itu kau sudah merasa baikkan.” Leeteuk menepuk pundak Donghae pelan.

“Oh. Gomawo, hyung. Nan gwenchana,” ucap Donghae.

Donghae menyeka tetasan cairan bening dari sudut kedua matanya. Berharap airmatanya tidak akan keluar lebih parah lagi. Super Show ini akan kacau jika moodnya sedang tidak baik. Masih ada 7 performance lagi sebelum SS3 ini benar-benar berakhir.

“Hhhhhh…” Donghae menghela napas panjang. “Joha! Aku harus menyelesaikan semua ini. Kim Syhae, doakan aku, ya.”

[Flashback]

“Yaa!!! Agassi.. Hajima.. Yaa!!” Donghae berteriak khawatir saat melihat seorang gadis berdiri di tepi top roof gedung MBC. “Agassi!!!! Hajima!!” Donghae menarik tubuh gadis itu menjauh dari tepi gedung itu.

“Nona, apa yang akan kau lakukan, hah? Kau ingin mengakhiri hidupmu, kah?” tanya Donghae.

“Lepaskan aku. Lepaskan!!” gadis itu meronta.

“Bunuh diri bukan cara untuk menyelesaikan perkara, nona,” ucap Donghae sambil terus saja memegangi tubuh gadis itu erat sekali.

“Ya! Siapa yang mau bunuh diri, hah?”

“Yee???” Donghae bingung .

“Keurom. Siapa yang mau bunuh diri? Kau mengira aku mau meloncat dari gedung ini? Aku tidak bodoh, ajussi.”

“Lalu? Apa yang kau lakukan di tepi sana??” tunjuk Donghae dengan gesture kepalanya. “Itu berbahaya, bagaimana kalau kau tadi terjatuh, hah?”

“Kalau aku terjatuh, tentu saja aku akan mati. Pabo!”

“Aiiissshh.. kau ini..” umpat Donghae kesal.

“Yaa! Lepaskan aku!” bentak gadis berambut panjang itu. Sontak Donghae melepaskan dekapannya. Sekejap gadis itu berlari menuju tempat dimana dia berdiri tadinya.

“Ya! Ya!! Yaaa!!! Apa yang akan kau lakukan lagi, hah??” Teriak Donghae lagi.

“Aku harus mengambil ponselku,” jawabnya.

“Eh?? Han–Handeupon??”

Donghae mendekat. Dilihatnya gadis itu malah tiduran dengan posisi telungkup, tangannya sedang mencoba meraih sebuah ponsel yang tergantung miris di kawat tepi gedung itu.

“Hey! Kau bisa jatuh. Sudahlah, lupakan saja ponsel itu.”

“Mwoo?? Kau menyuruhku melupakan ponsel ini? Ponsel yang kudapatkan dengan susah payah?? SHIREOO!!!”

“A-Agassi, eh, siapa namamu?” tanya Donghae disaat-saat genting seperti ini sempat-sempatnya dia menyanyakan hal tidak penting itu.

“Syhae. Kim Syhae,” jawabnya singkat.

“Ah, arasseo. Nona Kim, menjauhlah dari situ, jebaaalll..” Donghae memelas, namun tak digubris oleh Syhae. “Aiisshh!!! Gadis ini sungguh menyebalkan. Eottoke?? Eottoke?? Kalau aku turun untuk memanggil bantuan, bagaimana kalau dia jatuh duluan sebelum bantuan datang? Lalu bagaimana ini???” Donghae kebingungan mengacak rambutnya yang sudah rapi itu karena gadis yang tidak ia kenal itu. Dilihatnya Syhae mencoba meraih ponselnya dengan tangannya, namun tangannya tak sampai.

“Aaahhhkk, arasseo. Arasseo. Aku akan mencoba membantumu,” Donghae mengambil keputusan yang menurutnya kecil kemungkinan untuk berhasil. Donghae telungkup tepat disamping Syhae. “Ya Tuhan, lindungilah aku. Jangan biarkan aku mati hari ini, aku belum membahagiakan Donghwa hyung, omma, dan orang-orang di sekitarku, Tuhan. Tapi, jikalau aku kau takdirkan mati hari ini, tolong sampaikan pesanku pada Elf di seluruh dunia, suruh mereka menuntut gadis ini. Karena dia penyebab kematianku,” doa Hae sesaat setelah posisinya ia rasa cukup strategis untuk meraih ponsel itu.

“Aiiisshh… kau ini niat menolong kenapa harus pakai khotbah dulu. Cepat raih ponselku, sebelum aku benar-benar kehilangannya. Angin di sini cukup kencang, ajussi.” Syhae teriak tepat di telinga Donghae.

“Namaku Donghae. Jangan teriak-teriak dengan memanggilku ajussi, wajahku yang tampan ini akan terlihat lebih tua jika kau memanggilnya demikian,” jelas Donghae panjang lebar. Sementara Syhae hanya manggut-manggut berakting seolah-olah paham. Padahal yang ada dipikirannya saat ini adalah semoga ia bisa mendapatkan kembali ponselnya dengan selamat.

“Ja!! Aku mendapatkannya,” seru Donghae ketika tangganya berhasil menggenggam ponsel itu.

“Ah? Jeongmal?? Huaaaa…..” Syhae teriak kegirangan dan segera merebut ponsel itu dari Donghae.

“Akhirnyaaa…. Lollipopku…. Kau kembali padaku, sayang..” Syhae mengelus-elus LG Lollipop kesayangannya. “Kau tidak apa-apa, kan?” dia memeriksa setiap senti benda hijau itu.

“Yaa!! Yang kenapa-kenapa itu aku, nona,” teriak Donghae.

“Eh? Kau? Gwenchana?” Syhae memeriksa pergelangan tangan Donghae yang nampaknya tergores kawat.
Lanjutkan membaca ‘If You Come Back Again’

Super Show 4 Effect

•November 22, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Selasa pagi yang cerah, tepat sekali. Setelah Senin kemarin hujan lebat. Syhae sedang mempersiapkan sarapan untuk suaminya tercinta. Di situ ada Kyuki dan Kyu juga. Tapi entah sejak kapan dua yeoja itu tertular penyakit anehnya Yesung. Sampai-sampai di dalam satu ruangan saja mereka saling bertelepon. Ckckck…
SH    : Iruhke matuhbsuhdo dwenayo? Dodaeche mu uhlnuheun guhngayo?  *nyanyi Cooking Cooking* *masak di dapur*
 Becauce you naughty naughty… Hey! Mr. Simple 
SH    : Yeoboseyo?? Ah, Kyuki~ah.. waeyo???
KK    : Ada kabar kalau mereka akan Sushow di Indonesia….
SH    : MWOYAAAA????? ANDWEEE!! ANDWEEE!!! *pukul-pukul wajan*
KK    : Ya! Yaa!! Jangan teriak seperti itu, telingaku sakit, nona!! *menjauhkan ponsel dari telinga*
SH    : Aissshhh!!! Kau  ini… isshh.. membuat pagiku buruk saja. Masakanku bisa berantakan ini!!! *ikan hangus*
KK    : hahaaa…. Jangan-jangan masakanmu sedang hangus yaaaa??? *mengendus-endus*
SH    : Ahhh, kau ini. Kau tahu kan kalau kita ini tidak akan bisa nonton SS4, jadi kenapa kau malah membuat aku galau seperti ini, hah???
KK    : Hey! Kau pikir aku tidak??? Jangan begitu, walau bagaimanapun juga kita harus mendukung oppadeul untuk memberi fans service yang terbaik.
SH    : Keurom, fans service! Tapi tidak untuk fans seperti kita, kan?? *sedih* kemarin aku sudah hujan-hujanan demi nonton Hae Sushow, lalu pagi ini kau membuat dapurku berantakan gara-gara berita itu, nona…
KK    : ah!! *menjentikan jari* bagaimana kalau aku memakai uang kuliahku untuk membeli tiket SS4??
SH    : Hey! Niat buruk pasti tidak akan terlaksana…. Ah, semoga saja mereka tidak jadi ke Indonesia…
KK    : Yaaa!!! Kau ini!!! Doa buruk pasti tidak akan dikabulkan, ara!!
KH    : Tau nih! Katanya kemarin harus mendukung kami, tapi kenapa hari ini kau malah berdoa seperti itu??? Pabo!!
DH    : yaaa!!! Jangan bicara seperti itu pada istriku!!! *bawa-bawa celurit*
SH    : Semua ini gara-gara kalian!!! Terutama kau, LEE DONGHAE!!!!! *mencincang-cincang ikan*
DH    : Whoaaa??? Kenapa aku?? Itu..itu..ikanmu.. jangan perlakukan teman-temanku seperti itu, yeobbo….

 
*Edisi galau bersama SyGeeVi. Dua hari ini, yeoja itu *nunjuk Kyuki* membuatku frustasi. Aaarrrggghhh…*

Super Show 4 @ Seoul

•November 21, 2011 • 2 Komentar

Huuuhhh….
Joha! Aku hanya bida duduk di muka layar kaca ini dengan gusar. Dengan baju yang masih basah karena beberapa menit yang lalu aku diguyur hujan.
Hujan. Keurom. Langit nampaknya sedang mendukungku bulan ini. November Rain. Ya, hatiku kini juga sedang mendung.  Hampir sebulan ini aku lost contact dengan Donghae dan teman-temannya. Entah mengapa, aku sendiri juga tidak tahu pasti penyebabnya. Dan rasa ini semakin meledak-ledak saat aku tahu kabar tour mereka yang ke-4.

ss4_poster

Oh Tuhan.. aku harus masih bersabar untuk bisa melihatnya langsung.
Sabtu kemarin aku sudah memutuskan untuk tidak menyapa apapun yang  berbau jaringan internet, karena aku  tahu pasti akan ada berita mereka di mana-mana.. aku pun sengaja me-nonaktif-kan handphoneku. Niat banget yah??
Namun siapa sangka, pagi ini aku malah dapat sms dari Kyuki, si Sparkyu itu. Dia berteriak kalau dia sudah menonton fancam SS4-> Storm.. ujarnya KRY dan HaeMin terlihat tampan!! Oomooo…. Aku langsung mengacak-acak rambutku frustasi..

“Apa yang harus kulakukan sekaraaaangggg??? Aissshhh… yeoja satu ini membuatku gatal untuk tidak buka You Tube sekarang.”

Dan benar!! Dengan basah kuyup karena perjalananku dari rumah ke kantor, akhirnya aku bisa melihat mereka. Lagi-lagi aku seperti orang gila. Melihat aksi mereka di atas pangggung. Oh Seoul, beruntungnya kalian memiliki makhluk-makhluk seperti merekaaaaa…..

Opening_Hae=> ottae???

 

 

ada lagi yg membuatku gila, VCR mereka, nampak Hae sedang memeluk seorang yeoja kyang berlumuran darah. Aahhh, seandainya yeoja itu aku. #plaakk..
Satu lagi, VCR Hae sebelum tanpil bersama soulmatenya, Eunhyuk.. astaga!! Senyumnya itu lhoh!! Siapa yang nggak tergoda olehnya, hah??

Arasseo.. Syhae, Kyuki, dan Yevi harus masih sabar untuk bisa menjadi bagian dari lautan safir saat mereka SuShow. Untuk oppadeul, semangat yaa!!! Berikan persembahan yang terbaik untuk para ELF. Jaga kesehatam kalian. Bagaimanapun juga kalian harus tetap sehat, ara!! Karena ELF akan sakit jika kalian sakit juga. Super Junior hwaiting!!! Lee Donghae, SARANGHAE!!!

ss4
URINEUN SYUPEO JUNI~OO~E~YO!!!

 

*Syhae nulisnya sambil gemeteran antara lemes habis ngelihat mereka sama kedinginan habis kehujanan.. *

My Personal Guide

•Oktober 29, 2011 • 2 Komentar

My Personal Guide

Cast : Lee Donghae, Kim Syhae, Choi Siwon

Genre : Romantic

============================================

 

Jika dia untukku, hal itu pasti akan terjadi…

 

Aku berulang kali menoleh kearah laki-laki itu. Ingin rasanya aku menyapanya, tapi ragu. Bagaimana kalau dia bukan pria yang kumaksud? Tapi menurutku, iya kok. Tapi kalau bukan? Aku bertarung dengan hatiku sendiri. Ah, tapi tak ada salahnya aku mencobanya, toh nampaknya dia sedang kebingungan.

“Chogiyo,” aku sedikit membungkuk padanya. Dia menoleh dan akupun tersenyum ramah padanya. Tapi nampaknya dia malah bingung dan memandangku dari ujung kaki sampai ubun-ubunku.

“Yes?” jawabnya.

“Kau_kau Lee___Donghae, kan?” tanyaku sok pede dengan bahasa Korea. Aisshh… bagaimana kalau aku salah orang? Mana mungkin artis itu sedang ada di Tanah Lot sekarang? Dan dengan tampang mengenaskan seperti ini, tanpa tedeng aling-aling apapun. Dia hanya mengenakan kaos hijau dengan dan celana selutut. Sepatu kets kuningnya yang menyilaukan membuatku ingin ngakak di tempat. Ckck.. dasar artis, fashionnya selalu yang aneh-aneh.

“Yee? Kau..kau mengenaliku?” tanyanya dengan herannya, dia pasti berpikir bagaimana bisa di Bali ada orang yang bisa bahasa Korea. Ckck..

“Nee, aku tahu sedikit tentangmu. Kupikir aku tadi salah mengenali orang, tapi ternyata ini benar-benar kau, member Super__Super__”

“Super Junior,” lanjutnya. Astaga. Aku bisa-bisanya lupa nama boyband itu. Aku jadi malu. Sok-sok kenal lagi.

“Ah, iya, itu, Super Junior,” kataku sambil menjentikkan jariku. “Tapi, apa yang kau lakukan disini? Kau sendirian?” aku memeriksa sekelilingnya, siapa tahu dia bersama Eunhyuk, foto bareng aja sekalian. Hehehe…

“Aku tersesat. Tadi aku datang kemari bersama rombonganku. Kami sedang liburan dalam rangka merayakan ratting dramaku yang mendapat perolehan tertinggi,” jelasnya. “Tapi siapa sangka kalau aku akan tersesat seperti ini,” wajahnya berubah menjadi panik dan agak bingung. Sungguh lucu. Aku bisa berbincang dengan lelaki yang pasti amat dipuja kaum hawa diseluruh muka bumi ini dengan tampang yang seperti ini, kebingungan. Hahaha…. Mereka akan iri padaku jika mereka tahu aku sedang bersama Lee Donghae. Gkgkgkgk…

“Yaa! Kenapa kau tertawa sendiri, nona?” sapanya memecahkan lamunanku yang geje ini.

“Ah, ani.. jweosonghamnida.” Aku membungkuk padanya.

“Eh, tapi ngomong-ngomong kenapa bahasa Koreamu sungguh fasih? Kau orang Indonesia, kan?”

“Hah? Oh iya, perkenalkan, aku Syhae. Kata nenekku, aku berasal dari keluarga Korea dengan marga Kim. Huuuuhhh….” Aku menghela napas. “Aku sendiri tak pernah tahu siapa identitasku yang sebenarnya, yang pasti namaku Kim Syhae. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang menawarkan jasa tour guide di Bali, kebetulan aku menangani turis-turis dari Korea dan Jepang. Jadi boleh dibilang bahasa Korea dan Jepangku itu mendekati sempurna,” jelasku panjang lebar, sedikit nyombong laahh. Kulihat dia hanya manggut-manggut serius.

“Arasseo. Sekarang bisakah kau melanjutkan curriculum vitae-mu nanti dan menolongku sekarang?” pintanya. “Ah, johta! Sekarang tolong aku, bagaimana caranya agar aku bisa kembali bersama Siwon dan yang lainnya.” Lanjutnya. Bahkan aku belum menjawab apakah aku bersedia menolongnya atau tidak.

“Haaaa???? Kau bersama Siwon juga???” tanyaku antusias. “Ahhh, aku ingin sekali bisa bertemu dengannya, minta foto bersama dan tanda tangannya.. huaaaaa….”

“Yaaa!!! kenapa kau malah antusias sekali ingin bertemu Siwon, sedangkan kau hanya biasa-biasa saja saat bertemu denganku?” tanyanya kesal.

“Yeee… terserah aku dong, lagipula kau tak setampan Choi Siwon. Satu-satunya member yang sempurna itu ya Choi Siwon.”

“Yaaa…terserahlah. Ottaeyo?” tanyanya.

“Mwoga?” aku balik nanya.

“Aissshhh… bagaimana aku bisa pulang ke hotel, nona?” dia garuk-garuk kepala mulai kesal.

“Gampang. Tinggal kau sebutkan nama hotel tempat kau menginap, akan kuantar kau ke sana. Beres, kan?” aku menyilangkan tangan dengan senyum andalanku.

“Emmm…masalahnya, aku tidak tahu nama hotel itu.”

“Haaa??? Lalu bagaimana? Nomor telepon hotel itu?”

“Bodoh. Nama hotelnya saja aku tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu nomor teleponnya?”

“Ihh, kasep-kasep eh ternyata dodol, euy,” gumamku dengan logat Sunda.

“Yee??” tanyanya.

“Ah, ani,” ganti aku yang garuk-garuk kepala.

“Ah, eottoke?? Nan eottoke, Kim Syhae~ssi?”

“Mollayo..”

 

~(-.-)~

Yayaya! Akhirnya laki-laki ini mengikutiku kemanapun aku pergi. Tanpa rupiah, won ataupun dollar sepeserpun melekat di tubuhnya. Handphonenya pun ada di managernya. Apakah seorang artis itu memang seperti itu? Semuanya bertumpu pada managernya. Apa-apa manager, kemana-mana manager,. Huuuhh… jangan-jangan sabun mandipun disiapkan oleh manager? Hahahaaa….

“Yaa! Kemana lagi kita akan pergi? Aku lelah. Hari sudah mulai malam,” katanya.

“Kemanapun. Aku juga sudah lelah, tapi kau harus menemukan rombonganmu sebelum mereka meninggalkan Bali,” kataku yang entah sejak kapan mulai terlibat dalam misi pria ini mencari rombongannya.

“Haa? Tidak mungkin. Mereka tidak mungkin terbang ke Seoul tanpa aku.”

“Cish! Siapa tahu. Mungkin mereka pikir dengan hilangnya kau, itu akan mengurangi biaya akomodasi mereka. Hahahaha….” Aku terkekeh.

“Yaa! Neo!!” dia menunjukku.

“Wae? Kau ingin marah? Kau ingin memukulku? Atau menuntutku?” tantangku. Kami mulai berdebat di pinggiran jalan yang diterangi lampu kota yang mulai nyala. Suasana Bali yang sangat diidam-idamkan setiap turis. Indah dan romantis tentunya.

“Keurom, akan kutuntut nanti, seorang guide telah melecehkan artis ternama Super Junior’s Donghae,” ucapnya lantang.

“Joha. Kalau begitu silakan cari sendiri rombonganmu. Kau ini. Haaahh…bodohnya aku yang mau-maunya berputar-putar mengelilingi Bali hanya untuk orang sepertimu. Jadi, silakan nikmati perjalanan Anda, tuan. Semoga liburan anda kali ini menyenangkan,” kupercepat langkahku menjauh darinya.

“Yaa!! Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Yaa! Berhenti di situ!” Dia terus saja teriak-teriak sambil berusaha menyamakan langkahku.

“Kenapa kau mengikutiku? Kau ini. Aiiisshhh….” Aku memutar bola mataku merasa sangat kesal dengan laki-laki yang ada dihadapanku ini. “Aku tidak bermimpi apapun semalam, kenapa bisa dapat hadiah dan musibah secara bersamaan seperti ini?” umpatku.

“Yee??” dia menatapku.

“Iya. Bertemu denganmu merupakan hadiah,” kulirik wajahnya yang sumringah saat kukatakan kata ‘hadiah’. “Tapi sekaligus musibah bagiku.” Dan kini wajahnya berubah 180 derajat lebih masam dari beberapa detik yang lalu.

“Wae??” mulutnya manyun membuatku ingin mencubit pipinya.

“Hadiah, karena jarang-jarang sekali ada orang yang seberuntung aku. Bertemu dengan bintang Hallyu setampan kau, ajussi.”

“Ekhem..ekheemm.” dia berdehem dan merapikan rambutnya yang blonde itu.

“Cish! Aku belum selesai, jangan ge-er duluan. Musibah, karena ternyata kau benar-benar merepotkanku, tuan. Hari ini harusnya aku bisa beristirahat dengan tenang. Kenapa malah bertemu turis kesasar macam kau?”

“Hey, jarang-jarang lho kau bisa jalan-jalan bersama artis sepertiku,” ucapnya sangat percaya diri.

“Jalan-jalan?? Hellooowwww…. Kau tersesat, tuan. Ini sih bukan jalan-jalan namanya, tapi mencari jalan pulang.”

“Aaah, sudahlah, nampaknya kali ini aku tidak pandai dalam mengatasi wanita yang satu ini. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

“Pergi saja sendiri dan temukan jalanmu,” jawabku judes. Aku benar-benar kehilangan esabaranku kali ini.

“Jebal.. jebal butakhaeyo, agassi, jebbaalll..” rengeknya.

“Begini saja. Kau ikut aku ke rumahku, lalu kita pikirkan jalan keluarnya sesampainya di sana,” aku mencoba menawarkan tawaran yang sebenarnya aku pun tidak yakin apakah dia akan bersedia.

“MWO??? Kau mau apa???” dia menyilangkan tangannya di dadanya.

“Yaa!! Aku tidak akan memperkosamu, tuan. Aku tidak nafsu dengan tubuhmu itu. Mau ikut tidak?”

“Ah, arayo…”

 

@ Kost

“Masuklah! Ini tempat tinggalku di Bali.” Aku mempersilakan dia masuk.

Kulirik dia, nampaknya dia mengedarkan pandangannya, melihat situasi tempat tinggalku. Hahaha… apa dia tak pernah melihat rumah seperti ini, ya?

Dia melepas kacamata dan topi yang kupinjamkan padanya tadi. “Kau tinggal disini?”

Aku mengangguk.

“Di tempat seperti sesempit ini?” tanyanya lagi.

“Dengar ya, tuan. Tempat ini cukup untukku tinggal. Buat apa memiliki rumah yang besar jika aku hidup sendiri? itu pemborosan namanya,” jelasku.

“Aigoo!! Kau cocok menikah dengan Hyukjae,” katanya.

“Keurom. Jika aku berkesempatan bertemu dengannya, aku akan sangat bersedia menikah dengannya. Karena aku juga tergila-gila padanya.” Aku mengetuk-ngetuk pipiku dengan jariku sambil membayangkan Lee Hyukjae menjadi suamiku. Kekekek~~~

“Menikahlah denganku, nona.”

Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku menatapnya tajam,

“Yaa! Kenapa kau malah bengong?” dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku lalu nyengir. “Bukankah aku lebih romantis saat melamarmu daripada si monyet itu?”

“Darimana aku bisa menilainya kalau kau lebih romantis daripada Eunhyuk? Eunhyuk saja belum pernah melamarku, weeeeee…. “ kujulurkan lidahku meledeknya. Kualihkan pembicaraanku dengan beranjak pergi menuju kulkas di ujung ruangan. Kuraih dua kaleng softdrink yang kupikir tak asing baginya, Cola. Padahal jantungku serasa mau copot saat mendengar suaranya melamar tadi. Fuiiiihhh!!!!

“Cha! Aku hanya punya es cendol dan ini. Kupikir kau tidak asing dengan minuman ini, daripada es cendol.”

“Ah?? Es?? Es ce___” dia nampak lucu.

“Es cendol, tuan. ES__CEN___DOL___ CEN-DOL,” aku memperjelas pengucapan kata itu.

“Es__Ce___ aaaaarrrgghhh…. Sudahlah! Itu tidak penting. Buang-buang tenagaku saja,” gerutunya.

“Yeee…. Suruh saja lidah loe kaku gitu.”

“Aku lapar.” Ucapnya singkat.

“Lalu?” godaku.

“Kenapa kau malah bertanya? Apa kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan kalau melihat orang lapar, hah?” dia marah-marah.

“Arasseo. Arasseo.. kau tidak perlu marah-marah, tuan. Lagipula kau ini tamu. Jadi bersikaplah sopan sedikit, atau kau kuusir, arachi?” aku sedikit mengancamnya.

Cisshhhh!! Membawanya pulang malah membuat keadaan semakin parah. Kenapa tidak kuserahkan saja dia ke kantor polsisi? Biar dia dimasukkan ke berita, ‘Ditemukan artis Hallyu tersesat atas nama Lee Donghae’ hahahaaaaa….. Bali akan gempar. Lebih gempar dari kasus Bom Bali. Dengan begitu aku tidak akan serepot ini.

Setelah hampir 1 jam berkeliling ke swalayan terdekat, ramyeon tak kunjung kudapat juga. Lalu kuputuskan membeli beberapa bungkus mie instant dan bergegas pulang, jangan sampai makhluk itu mati kelaparan gara-gara lama menungguku membeli ramyeon permintaannya.

“Mian, aku tidak berhasil mendapatkan ramyeon instantnya, secara ini bukan Korea. Hanya ini yang berhasil kudapatkan,” kutenteng mie instant yang berhasil kubeli dalam belanja tersingkatku ke swalayan terdekat.

“Ah, gwenchana. Ini sudah lebih dari cukup. Gomawo. Kajja!” dia beranjak dari sofa.

“Mau apa kau?” tanyaku heran.

“Masak. Ayo kita memasak mie instant. Kajja!!!” ucapnya semangat 45.

Dia mulai mencari-cari peralatan yang ada di dapur miniku. Diraihnya celemek yang memang hanya satu. Tangannya dengan gemulai melakukan kegiatan yang layaknya dikerjakan oleh wanita itu.

Aku hanya diam memandangnya. Heran. Kenapa dia tidak merasa canggung ataupun malu? Ini kan rumah orang? Negara orang. Terlebih dia tidak mengenaliku sama sekali. Kami benar-benar asing. Tapi entah kenapa kami merasa kalau kami sudah pernah kenal sebelumya. Aku tak pernah menyangka kalau seorang bintang sepertinya ternyata bisa seperti ini.

Setelah makan malam, aku mengajaknya top roof rumahku. sebenarnya tempat ini lebih banyak digunakan sebagai jemuran, pemirsa. Hehehe~ tapi saat malam hari view-nya sangat menakjubkan. Dan kebetulan malam ini sedang cerah. Jadi aku bisa melihat bintang sepuasnya.

“Wuaaaa…indah sekali mereka,” ucaku sambil menengadah menatap gelapnya langit yang indah dengan taburan bintang.

“Apa? Apanya yang indah?” tanyanya memandang sepele ciptaan Tuhan itu.

“Tuan, apa kau tidak bisa melihat betapa maha sempurnanya Tuhan itu. Dia bisa menciptakan benda seindah itu,” aku menunjuk satu bintang yang paling terang.

“Dan Tuhan pun menciptakan satu bintang yang seindah aku, bukan?” ucapnya membuatku memandang wajahnya yang yaaahhh..tampan sekali.

“Tuan?”

“Hmmm??” dia menoleh kearahku. Aku diam dan terus menatapnya.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Aah, ara. Aku memang tampan, ck!” dia mengedipkan matanya genit. Aaahhh…membuatku tak sadarkan diri selama sepersekian detik.

“Cish! Ara, kau memang tampan, eh, tapi kira-kira siapa ya yang akan menjadi istrimu nanti?”

“Mungkin saja kau.”

“Neee??? Na?? Mana mungkin?? Itu tidak akan pernah terjadi, tuan. Ahaaaha…ada-ada saja kau ini.” Aku berjalan menuju bale dan kurebahkan tubuhku di sana menatap kerlip bintang yang begitu menggodaku untuk memutiknya. *bunga kaleee*

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, nona.” Dia ikut merebahkan diri di sampingku. “Dunia ini luas tapi juga sempit.”

“Kau ini kalau bicara yang beres kek, kenapa kau bilang luas kemudian kau katakan lagi sempit, hah?” tanyaku. “Sok puitis tapi bahasamu itu aneh,” gumamku kemudian.

“Luas jika kita mengukurnya sebatas penghitungan manusia. Namun menjadi sempit jika ternyata kita dipertemukan lagi dengan di lain waktu, tempat, dan kondisi yang berbeda. Apa itu yang namanya jodoh?” Penjelasan yang tak ku mengerti. Aku kembali diam menatapnya. Kenapa dia jadi membicarakan tentang jodoh? Apa jangan-jangan dia sedang menghindar dari kekasihnya, ya? Dia kabur ke Indonesia karena bertengkar dengan kekasihnya, bukan? Ah, pasti itu salah satu penyebabnya. Ckckck… kisah seorang superstar sungguh serumit itu kah?

“Yaa! Kenapa kau geleng-geleng seperti itu, nona?” aku tersentak karena tegurannya.

“Tidak. Aku hanya berpikir betapa hancurnya mereka yang mengelu-elukanmu saat mengetahui kalau kau akan menikah,” kalimat itu mengalir begitu saja dari mulutku.

“Memangnya kenapa? Aku juga kan manusia. Aku namja normal yang juga ingin memiliki kehidupan bersama seseorang yang kucintai. Aku yakin mereka akan mengerti. Dan aku yakin kalau mereka juga bahagia kalau melihatku bahagia,” ucapnya tanpa melepas pandangannya ke langit luas.

“Itukah jawabanmu, tuan? Hmmmm…. Jawaban yang masuk akal,” balasku. Aku terdiam memikirkan jawaban Donghae barusan. Apa iya mereka akan menerima begitu saja? Karena mungkin saja ada yang mengidolakannya ‘sangat-amat’ sampai-sampai dia akan nangis bombay bak sedang menghadiri pemakaman saat tahu idolanya akan menjadi milkik orang lain.

~(-.-)~

 

“Donghaeeeee……” aku berteriak membangunkan Donghae yang masih terlelap di sofa.

“Aaaggghh… ada apa sih? Pagi-pagi begini sudah berisik. Aku masih mengantuk, nona,” ucapnya sambil menarik kembali selimutnya.

“Yaa! Kau ini mau pulang atau tidak?”

“Mwo?” dia menjulurkan kepalanya dari dalam selimut. “Apa katamu barusan?”

“Iya. Kau akan segera pulang. Siwon membalas twitku. Semalam aku  berpikir bagaimana caranya agar kau bisa betemu kembali dengan Siwon sebelum mereka kembali ke Korea. Lalu aku terpikir dengan Twitter, aku me-mention  namanya. Aku mengatakan kalau kau ada bersamaku. Dan ternyata dia benar-benar merespon,” jelasku padanya.

“Apa kau gila? Bagaimana kalau berita ini tersebar sampai ke mana-mana? Bagaimana kalau semua orang mendatangi rumahmu untuk melihatku, hah?” ucapnya panik.

“Hey, tuan. Itu sangat berlebihan. Sudahlah! 2 jam lagi akan kuantar kau ke bandara, mereka akan terbang ke Seoul pukul 9 pagi ini, jadi jika kau ingin selamat, maka bersiap-siaplah, tuan.”

@ Ngurah Rai Airport

Campur aduk rasanya saat aku mengetahuinya. Untuk pertama kalinya seorang bintang seperti Choi Siwon membalas twitterku, namun isinya yang… jujur, membuatku tiba-tiba sedih. Aku akan berpisah dengan laki-laki ini. Walau bagaimanapun juga, Donghae orang yang baik. Dan melepaskannya adalah suatu hal yang cukup berat. Jika aku mau, aku bisa saja menawannya sampai akhirnya pihak entertainmentnya menghubungi polisi untuk minta bantuan mencari salah satu artisnya yang hilang. Tapi, aku masih waras untuk melakukannya.

Aku mengedarkan pandanganku saat sampai di cafetaria bandara, kami janjian akan bertemu di sana.

“Ya Tuhan… hyung, kemana saja kau? Kami hampir berkeliling Bali untuk mencarimu,” ucap pria tinggi dan tampan, tidak salah lagi. Itu Choi Siwon.

“Kalian yang kemana saja? Meninggalkanku begitu saja. Apa kalian tidak menyadari kalau ada salah satu personil kalian tertinggal, hah??” Donghae marah-marah pada Siwon.

“Mianhae, hyung. Tapi kau baik-baik saja, kan?” Siwon meneliti tiap inchi dari partnernya ke gereja itu.

“Ya, aku baik-baik saja. Errrr…untung ada nona ini yang membantuku.” Dia melirikku yang kurasa sedang terbengong-bengong karena Siwon.

“Hello, I’m Siwon,” ucapnya.

“Eeehh, dia fasih sekali bahasa kita, jadi simpan saja bahasa inggrismu yang pas-pasan itu,” ledek Hae.

“Ah, jinja? Tapi bagaimana bisa?”

“Dia seorang tour guide aneh yang kebetulan bisa bahasa Korea,” kata Hae lagi. Cish! Manusia ini tidak bisa berterimakasih apa ya??

“Kamsahamnida, nona____

“Kim Syhae imnida,” ucapku singkat, dan berharap Siwon tak pernah melupakan nama itu. Jiahahahaaay…

“Baiklah. Aku rasa aku tak akan lagi merepotkanmu,” kata Hae dengan senyum yang sedikit masam. Akhirnya kata perpisahan itu keluar dari bibirnya yang merah.

Aku pun terkekeh dengan sedikit kupaksakan. “Kau sudah cukup membuatku repot, tuan. Kuharap cukup satu Syhae yang kau repotkan.” Aku melirik kearah Siwon yang ternyata benar-benar tampan. “Tuan Choi, lain kali jangan biarkan anak ini lepas dari ikatan kalian, ya. Dia sungguh membuat orang kesal,” ledekku.

“Ah, algaeseumnida, Syhae~ssi. Ikan ini tak akan pernah kulepas lagi. Akan kupasang jaring disekelilingnya,” kata Siwon. Donghae yang merasa malu menyikut Siwon.

“Kurasa kita harus berpisah sekarang. Kami harus boarding pass  dulu.”

Kata-kata Donghae barusan membuat hatiku mencelos. Kenapa aku merasa tidak rela kalau dia kembali ke Seoul.

“Ah, arasseo. Jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salamku pada member yang lain, ya. Salam specialku untuk Lee Hyukjae. Sampaikan padanya, ada Jewel yang menantimu,” kataku.

“Isshh!! Kau ini, kenapa harus jadi Jewel? Lebih baik jadi Elfishy, nona,” kata Donghae sedikit bersungut-sungut.

“Shireo!”

“Acchhh.. sudahlah. Aku harus pergi,” ucapnya. Tiba-tiba dia meraih tubuhku, memelukku dan membisikkan sesuatu, “Gomawo. Dua hari bersamamu sungguh menyenangkan. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi suatu saat nanti, my personal guide.”

Dia melepaskan pelukannya dan mendaratkan kecupan ringan di pipiku. Dan itu membuat hatiku berdesir. Melayang aku dibuatnya karena perlakuannya barusan.

Sebelum ia benar-benar meninggalkanku, dia mengacak lembut rambutku. Dan aku pun melakukan ritual yang sama terhadap setiap turisku.

“Semoga liburan Anda kali ini menyenangkan. Berkunjunglah di lain kesempatan, tuan.” Aku membungkukkan tubuhku.

“Sampai jumpa, Nona Kim.” Donghae terlihat berat melangkahkan kakinya.

“Sampai jumpa, Tuan Lee, Tuan Choi.” Aku melambaikan tangan pada mereka. Sosok tiga orang itu semakin lama semakin menjauh. Dua artis dengan seorang manajer yang tidak kalah tampan. Semoga saja mereka akan baik-baik saja di dalam sana.

“Yaah.. nggak ada cowok cakep yang gangguin aku lagi dong?” ucapku sedikit kecewa. Aku membalik tubuhku berjalan menuju pintu keluar bandara itu. Yang ada dipikiranku saat ini adalah aku harus kembali ke kehidupanku seperti tiga hari sebelumnya. Sebelum bertemu dengan sosok tampan yang di sebut Lee Donghae itu. Laki-laki yang walau hanya dua hari bersamaku namun cukup membuatku berat untuk melepaskannya pergi. Namun siapa sangka kalau di dalam lembaran cerita kehidupanku aku bisa bertemu dengan sosok idola seperti dia. Tuan Lee Donghae.. Cish! Bahkan kami sering menggunakan kata ‘nona’ dan ‘tuan’. Benar-benar sulit untuk dilupakan.

@ Korean Air

[Donghae POV]

Aku tidak bisa duduk dengan tenang. Berulang kali melongok ke jendela pesawat, melihat apakah benda ini sudah terbang atau belum. Tiba-tiba aku ingin turun saja. Aku merasa belum puas dengan liburanku kali ini. Ani. Bukannya aku merasa belum puas, tapi aku enggan meninggalkan nona itu.

“Hyung, gwenchana?” tanya Siwon.

“Nee.”

“Apa ada yang tertinggal?” tanya Jonghoon hyung yang duduk di sebelah Siwon.

“Ah, anio hyung. Aku tidak apa-apa,” jawabku. Lalu aku membenarkan posisi dudukku agar terlihat lebih nyaman.

“Hyung?” Siwon mendekat padaku.

“Hmm? Wae?”

“Apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Apa maksudmu, hah? Tentu saja aku baik-baik saja.”

“Kau tidak sedang memikirkan gadis itu, kan?” bisik Siwon. Bingo! Mungkin inilah yang membuatku resah sejak melepas dekapanku pada gadis itu. Aku mulai terbiasa dengan suara gadis itu.

“Molla. Aku merasa nyaman dan aman bersamanya,” aku membayangkan malam itu. Malam dimana aku masak mie instan yang rasanya sedikit aneh bagiku.

“Itu karena dia tidak mengenal kita, hyung. Coba kalau dia Elf, mati kau, hyung.”

“Ani. Dia mengenal Suju dengan baik. Dia_dia__

“Dia apa, hyung?” Siwon penasaran.

“Dia__dia mengidolakanmu.”

“Jeongmalyo???”

“Ahhh, sudahlah. Aku ingin tidur. Sudah 2 hari aku tidak tidur dengan nyenyak.” Segera kurapikan letak maskerku dan kupasang kacamata hitam yang baru kudapatkan dari Junghoon hyung. Kemudian aku memejamkan mata berusaha agar bayang-bayang gadis itu lenyap dari memoriku. Aku menghindari pertanyaan Siwon yang semakin menjadi-jadi.

“Semoga perjalanmu menyenangkan, tuan.”

Aacchh…kenapa suara gadis itu terngiang-ngiang di benakku. Tidak. Tidak. Aku tidak mungkin bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Tidak.

[Donghae POV End]

 

~(-.-)~

Seperti mimpi. Akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di negeri dimana keluargaku berasal. Kurang dari satu jam lagi pesawat ini akan mendarat di Incheon. Ah, senangnya. Mendapatkan beasiswa S1 Seni Rupa di SNUA. Waaaahhh… serasa dapat serangan jantung saat aku menerima kabar itu. Hey! Itu salah satu universitas terbaik di Korea, nona. Seoul National University of Arts, sodara-sodara. Boleh dong ya, saya berbangga-bangga ria mengingat mendapatkan beasiswa itu suuangat sulit.

Tiba-tiba aku teringat sosok tuan itu. Orang yang kutemukan tersesat di Tanah Lot 1 tahun yang lalu. Ku buka agenda kesayanganku, kulihat lagi foto yang unik dan jarang terjadi.

 

————————————————————————————–

‘ckkreekk’

“Tuan, menghadaplah kemari!” pintaku.

“Hmm?”

‘ckkreekk’

“Aaah, manis sekali. Apa yang akan terjadi kalau foto ini ku upload di semua jejaring sosialku ya?? Mulai dari facebHanseok, twitter, blog pribadiku, kemudian blog perusahaanku, ya??? Dengan judul ‘Lee Donghae mencuci piring di rumahku’ pasti akan sangat indah,” godaku.

“Upload saja. Yang ada kau malah dikira mengada-ada. bagaimana bisa seorang artis sepertiku ada di rumahmu? Bisa-bisa kau disangka sakit jiwa, nona.”

————————————————————————————–

 

Foto itu kuambil saat kami selesai makan mie instant itu. Dia bersikeras untuk mencuci piring. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena aku telah membuatkannya makan malam.

“Ah, apa mungkin aku akan bertemu dengannya suatu saat nanti?”

Mengingat bayangannya mengganggu akal sehatku selama setahun terakhir ini. Aku jadi seakin berharap untuk bertemu lagi dengannya. Mungkin itu salah satu faktor yang membuatku semakin gencar mendapatkan schoolarship itu.

 

~ 1 minggu kemudian ~

Sudah seminggu lamanya aku tinggal di Seoul. Saat ini sedang musim panas. Sangat cocok untuk jalan-jalan. Aku masih sangat bingung dengan kota ini. Berulang kali aku tersesat. Dan berulang kali pula aku membeli peta kota Seoul walaupun disetiap pemberhentian bus akan selalu ada map di sana. Eh, tunggu! Peta?

“Peta?? Petaku?? Di mana?? Di mana petaku??” ku oprek-oprek isi tasku. Dan lagi-lagi aku tak menemukannya.

“Hilang lagi??? Ooohhh… pliss deehh.. nggak lucu kan seorang tour guide tersesat?” aku menggumam nggak jelas. “Kemarin di Gangnam, kemarinnya lagi di Seoul-nya, masa hari ini di Myeongdong, sih? Cuma daerah segini akupun masih tersesat??? Ckckck,” aku menggaruk-garuk kepalaku bingung. “Mana rame bener lagi. waduuuhhh….kantor polisinya di sebelah mana, ya?? Kanan? Atau kiri?” aku menimbang-nimbang jalan mana yang akan ku pilih untuk menentukan nasibku hari ini.

“Chogiyo, Agassi.”

Eh? Suara itu? Aku membalikkan badan.

“Nu_Nuguseyo?” tanyaku pada seorang laki-laki yang ada di depanku.

“Na~ya,” dia menurunkan sedikit kacamatanya. “Tuan Lee. Kau ingat, nona?”

Astaga! Dia. Dia masih setampan dulu. Ani. Lebih tampan malah. Ya Tuhan… apa lagi yang akan terjadi padaku kali ini? Setahun yang lalu pria ini merepotkanku. Apa kali ini juga??

“Waeyo? Kau tersesat sekarang?” tanyanya.

“Cish! Mana mungkin seorang tour guide sepertiku tersesat? Jangan panggil aku Kim Syhae kalau aku sampai tersesat,” kataku menyombong.

“Oh, johta! Syukurlah kalau begitu, karena aku sedang sibuk. Jadi aku tidak sempat menolongmu jika kau benar-benar tersesat,” katanya dengan santai.

“Hyung, ppali!” teriak seorang laki-laki diujung sana. Aku mengenalinya, kalau tidak salah si kecil Cho Kyuhyun.

“Ah, chankamanyo,” teriak Donghae pada Kyu. “Arasseo. Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi, nona. Annyeong.”

Dia membalik badannya dan mulai melangkah.

“A-arasseo,” teriakku.

“Nee?” dia berhenti dan menoleh.

“Aku..petaku hilang. Jadi, aku…

“Tersesat, kan?”

Aku mengangguk pelan.

“Hahahahahaa~~” dia tertawa. “Kenapa tidak bilang dari tadi, nona? Kajja!” dia menarik tanganku.

“Eo-eodikka??” tanyaku. Menahan tarikkannya.

“Akan kukenalkan kau pada member yang lain. Baru kuantar kau pulang setelah syuting kami selesai.”

“Oh, arasseo.” aku hanya menurut saat ditarik olehnya.

“Sekarang akulah personal guide-mu, nona.”

Aku hanya tersenyum tidak percaya. Kami bertemu lagi. Kali ini aku mengerti ucapannya waktu itu. Dunia ini luas tapi sempit. Ternyata kami dipertemukan lagi dengan di lain waktu, tempat, dan kondisi yang berbeda. Apa itu yang namanya jodoh?

 

~ 6 tahun kemudian ~

“Chae Ri… apa semuanya sudah kau siapkan?”

“Sudah, aku sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Hari ini kan hari istimewa, jadi semuanya harus sempurna,” ucap Chae Ri dengan semangat.

“Jangan sampai kau tersesat, arachi?” kata Hae sambil melirikku.

“Yaa! Apa maksudmu, hah? Yang duluan tersesat itu siapa?” sahutku tak mau kalah.

“Omma, appa… tenang saja. Aku tidak akan tersesat seperti yang kalian lakukan dulu. Aku kan sudah belajar dari kalian berdua. Jadi tidak mungkin aku tersesat,” ucap Chae Ri dengan senyumnya yang manis.

“Chae Ri sayang..” Donghae mengelus rambut Chae Ri. “Ibumu dulu juga bilang seperti itu. Walaupun dia seorang tour guide, ternyata dia tersesat juga, sayang.”

“Come on, daddy. Ini hanya Lotte World. Paman Cho dan bibi Kyuki pernah mengajakku ke Lotte, appa. Jadi tenang saja,” ucap Chae Ri memastikan kalau dia akan baik-baik saja dalam perjalanannya bersama guru dan teman-teman sekolahnya.

“Jangan sampai kau membuat ayah dan ibumu ini panic seperti saat kau hilang di Taman Yeuido waktu itu, Chae Ri,” kata Hae lagi.

“Itu karena paman Yesung dan bibi Yevi yang tidak becus menjagaku. Lagipula waktu itu aku masih sangat kecil, appa. Sekarang aku sudah TK, aku cukup besar untuk bertanya ke bagian informasi jika aku hilang nanti.”

“Kau dengar sekarang? Betapa cerdasnya anakku ini,” kataku memeluk putriku yang manis ini.

“Dia juga anakku, Kim Syhae tercinta.”

“Omma, appa, aku berangkat dulu ya.. bus sekolahku sudah datang.”

Aku dan Donghae mengantar Chae Ri sampai dia menaiki bus sekolahnya.

“Hanseo, tolong jaga Chae Ri, ya,” ucapku pada Hanseo, putra Leeteuk oppa.

“Baiklah, bibi. Aku akan menjaga Cherry,” jawab anak itu.

“Yaa!! Namaku itu Chae Ri, bukan Cherry, oppa. Harus kuulang berapa kali, sih?” gerutu Chae Ri kesal. Sementara Hanseo hanya nyengir.

Hanseo setahun lebih tua daripada Chae Ri. Aku menyekolahkan Chae Ri di TK yang sama dengan Park Hanseo dengan maksud agar ada yang menjaga Chae Ri, karena ada Park Hanseo dan Kim Yoon Ji, anak Yesung dan Yevi. Lee Chae Ri adalah buah cinta kami setelah menikah 5 tahun lalu. Aku teringat kata-kata Eunhyuk di pesta pernikahan kami, “Katanya kau lebih memilih menikah denganku, Syhae~ssi? Kenapa sekarang malah menikah dengan ikan cengeng ini??”. Hahaha~ benar, aku pernah mengucapkan itu pada Donghae. Tapi tidak kusangka kalau perkataanku itu disampaikannya ke Eunhyuk. Siapa yang sangka pula, kalau aku akan menikah dengan laki-laki ini.

“Hati-hati di jalan, ya. Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” teriakku saat bus itu mulai berangkat.

“Astaga! Bahkan kebiasaanmu yang itu belum bisa kau hilangkan, ya?” tegur Hae. Tangannya sudah melingkar rapat dipinggangku.

“Mwo? Ah, itu. Lupakanlah, ayo kita masuk!”

“Kajja!” Hae merangkulku. Namun ketika kami baru saja membalikkan badan, tiba-tiba…

“Chogiyo..”

“Eh?” kami menoleh. Seorang wanita paruh baya sedang berjalan kearah kami.

“Sepertinya aku tersesat. Bisakah kalian menolongku?” kata wanita itu.

Aku dan Donghae saling bertukar pandangan. Bengong sejenak, kemudian tertawa. Tersesat?? Kejadian konyol dan memalukan, namun itulah yang mempertemukan kami. Moment yang membuat kami tersesat di daerah yang sering disebut cinta.

 

~(^.^)~

~ The End ~

Jjeejaaankk!!!!

Author tiba-tiba ngayal gimana tampang seorang Donghae saat tersesat. Dan ini lah hasilnya… hahaha…semoga terhibur…

Don’t forget, comment, please….

Gomawo!! ^.^

생일 축하 합니다… 동해 오빠

•Oktober 15, 2011 • 9 Komentar

Namja ini yang tiba-tiba mengalihkan pandanganku.

kimsyHAEppyBirthday

Miina.. Di mana pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melihatnya. Di mana aku benar-benar memperhatikannya.

Well, beberapa orang sudah menyatakan kalau aku positif gila. Sebodo! Toh itu bukan diagnosa dokter. Jadi aku masih menyimpulkan kalau aku baik-baik saja. *maling mana mau ngaku. Kekekek~~*.

Keurom, aku memang tergila-gila dengan makhluk yang satu ini. Tak pernah segila ini.

Jika suatu saat nanti, ekhem..-aku-tahu-ini-tak-kan-pernah-terjadi-  aku bertemu dengannya, aku akan minta pertanggungjawabannya karena telah merusak system yang ada di otakku ini.

Aaahhh…. Satu-satunya sarana yang bisa membuatku agak waras ya ini, ‘rumah’ mungilku yang special ku bangun hanya untuk kisah-kisah yang akan lebih manis jika itu semua bisa terjadi hahahahaaaaa. *tuh kan, kumat*. Ah, ani..setelah kupikir lagi, blog ini membuatku makin sering mendengar “Neo! Neo micheosseo??”…. Aku malah menjadi-jadi jika sudah berubah menjadi author. Yaaa, siapa tahu Donghae mampir ke rumah ini, dan melihat-lihat isinya lalu jatuh cinta dan ingin bertemu dengan arsiteknya, pemiliknya, dan penghuninya yang tidak lain dan tidak bukan adalah aku. Hwahahahaaa… *nunggu Bang Donghae pinter bahasa Indonesia kali yah??*

So, I just wanna say…

Saengil chukae, nae oppa…

Saengil chukae, nae syupeomaen…

Saengil chukae, nae nampyeon… #ditendangelfishy#

HAEppy Birthday, Mr. Lee Donghae… >.0

생일 축하 합니다… 동해 오빠

김시해

You’ll Never Know

•September 13, 2011 • 4 Komentar

Ini merupakan kelanjutan dari The Romantic Couple. Dan jangan bingung jika ceritanya sedikit tidak nyambung mengingat TRC itu adalah penggalan mimpi Syhae saat dia koma.

Semoga tidak mengecewakan..

 

 

 

Cast : Kim Syhae, Lee Donghae, Kyuki, Cho Kyuhyun, Yevi, Yesung, Super Junior

Cameo : Jung Hakyo

Genre : Romantic

Setting : Seoul

=============================================================

[Flashback]

[Kyuki POV]

Hari ini Syhae siuman dari komanya. Syhae kecelakaan lagi. Kali ini gara-gara mengejar Donghae yang akan terbang ke Taiwan untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Hakyo. Syhae bermaksud ingin memeluk Donghae untuk yang terakhir kalinya sebelum Donghae menjadi suami orang lain. Aku tahu Syhae mencintai Donghae, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Hakyo, mantan kekasih Donghae kembali. Bahkan mereka akan menikah tiga hari lagi. Tapi aku melihat ada sesuatu yang berbeda dimata Donghae. Sepertinya dia merasakan sesuatu terhadap Syhae.

“Kau sudah siap?” tanya Kyu saat aku menuruni tangga.

“Nee. Kajja!” ucapku pada namja itu. Idolaku yang akhirnya menyatakan cintanya padaku 6 bulan yang lalu. Semua berkat Syhae, dia membantuku agar dekat dengan namja pecinta game ini. Secara seluruh perhatian Kyu hanya dicurahkan pada game-game nggak jelas itu, starcraft atau apalah itu namanya, whatever. Aku dan Kyu tidak pernah akur. Selalu berdebat walaupun dalam hal-hal yang sepele. Tapi justru itu yang membuat Kyu merindukanku.. kekekekk~

@ Seoul Hospital

Dengan tidak sabar segera kubuka pintu kamar dimana Syhae dirawat. Kulihat sobatku itu tergeletak pucat diranjang. Gadis pecicilan seperti dia kini sedang tergolek lemah di ranjang.

“Syhae…..” kuraih tangannya yang terpasang selang infuse. Air mataku mengalir begitu saja tanpa permisi.

“Kyuki..” katanya lirih. Kepalanya di perban dan kaki kirinya dibalut gips putih. Astaga! Berantakan sekali tampang gadis ini.

“Gwenchanayo?” tanya Kyu mendekatinya dan mengelus adik kesayangannya itu. Syhae mengangguk pelan.

“Kyu, aku akan menyusul ibu dan ayah menemui dokter,” kata Jinho.

“Nee,” ucap Kyu mengangguk pelan.

“Kyu, temani aku ke cafeteria. Sepertinya yeojamu itu perlu minuman,” kata Eunhyuk melirik kearahku.

Kyuhyun menurut. Mereka berdua pergi meninggalkan kami. Mereka mengerti kalau aku pasti ingin berbicara berdua saja dengan Syhae.

“Dokter bilang kecil kemungkinan buatmu untuk sadar. Mengingat pendarahan hebat dan benturan di kepalamu itu,” kataku. Duh! Ni air mata bisa stop nggak sih!! “Pabo! Selalu saja membahayakan nyawamu, Sy~ah.”

“Aku malah berharap itu benar-benar terjadi, Ki,” katanya.

“Hushh!! Ngomong apaan, sih??”

“Aku lebih baik mati daripada…..” ia menahan ucapannya “Harus melihat Donghae menikah dengan Jung Hakyo, Ki,” katanya. Wajahnya muram.

“Gila lo! Gara-gara ngejar Hae, kamu jadi kayak gini, Syhae. Sudah nggak ada harapan untuk memiliki cintanya, Syhae. Dia akan menikah 3 hari lagi,” kataku padanya, aku hanya ingin Syhae tidak larut dalam kesedihannya lagi. Pada kenyataannya, Donghae akan menjadi milik orang lain.

“Arayo,” katanya melemah. “Aku tak akan mungkin memiliki kesempatan untuk memilikinya, Kyuki.” dia menatap nanar kearah jendela.

“Eh, tapi selama aku koma, aku mimpi indaaaaahhhh banget,” ucapnya lagi.

“Mwo?? Mimpi?? Apaan?” tanyaku antusias. Sempat-sempatnya dia bermimpi indah di saat kami tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhannya ckckckck..

“Aku mimpi aku jadi pacar Hae, bahkan dia akan menikahiku 4 tahun lagi. Tapi rintangannya banyak. Awalnya Jiyong datang diantara kami, habis itu si Hakyo. Nah, yang terakhir omma nggak setuju sama hubungan kami. Walau akhirnya omma merestui kami,” jelasnya antusias namun terdengar lirih karena kondisinya masih lemah.

“Dudul!! Masih sempat mimpi sampai segitunya. Ckckck.” Ingin rasanya aku menjitaknya, namun kuurungkan niatku saat melihat benda putih melilit dikepalanya itu.

“Tapi aku herannya, ada beberapa bagian yang sama persis dengan yang ada di dunia nyata. Contohnya aku masih kesayangan Suju, Kyu kecelakaan, Yevi pacaran sama Yesung, dan ini,” dia menunjuk kepalanya. “Perban dikepalaku dan gips dikaki kiriku, persis seperti di mimpiku,” jelasnya lagi.

“Wah! Bener-bener sarap lu!” kataku.

“Asem!” dia memukulku pelan. “Tapi ada juga yang berbalik dari kenyataannya, misalnya dimimpiku Kyu sama kamu, kalian bukan sepasang kekasih.”

Aku mengelus dada, “Huuuhhh….. syukur-syukur yang satu itu cuma ada di mimpimu. Hahahahaaa…”

[Kyuki POV End]

***

Pagi yang cerah di musim semi. Aroma bunga Cherry yang semerbak masuk melewati jendela kamar Syhae di lantai 2. Setelah beberapa menit Syhae terpatut di depan cermin, melihat sosok yang ada di depannya. Dengan kepala masih dibalut kasa putih dan penyangga dikedua tangannya, ia hanya bisa mendesah.

‘Fuiiihh’ Syhae meniup poninya sendiri. Poniku sudah panjang, pikirnya. Melihat kembali copy-an dirinya didalam cermin. Kemudian ia melirik kearah figura foto diatas meja riasnya. Foto suju dan dirinya. Foto itu sempat menjadi kontroversi saat member lainnya melihat hasil jepretan itu. Kenapa tidak, ketika semua sedang asyik dengan posenya masing-masing, dan ketika juru kamera mulai menghitung mundur, tiba-tiba Donghae mengecup pipi Syhae, berbarengan dengan blitz kamera yang menangkap adegan itu. Alhasil, mereka berdua yang berada di deretan depan menjadi pusat perhatian saat semua yang melihatnya karena tampak berbeda dengan pose-pose member lainnya. Donghae dengan genit mendaratkan ciuman di pipi Syhae, sedangkan mata Syhae terbelalak menerima perlakuan Donghae.

Syhae tersenyum pasi mengingat moment itu.

Syhae menuruni tangga dengan bantuan tongkat penyangga. Dia merasakan hal yang aneh. Sepertinya kejadian ini pernah ia alami.

Dejavu!!

Ya. Ia pernah mengalaminya didalam  komanya.

“Ah, kau sudah bangun??” tanya Kyu dengan tangan yang sibuk dengan roti panggang.

Syhae mengangguk pelan, “Celemek yang bagus, tampaknya kau cocok memakainya,” ujar Syhae yang kini sudah duduk di depan meja dapur.

“Yaa!!! Aku ini selalu tampan saat menggunakan apapun,” kata Kyu dengan narsis berlebihan.

“Isshh.. setidaknya Kyuki akan baik-baik saja saat dia ngidam nanti.. hahahahahahaaaa,” tawa Syhae membahana di dapur.

“Eummmm… benar juga, ya. Saat Kyuki mengandung anak kami kelak, aku akan setia disampingnya,” ucap Kyu sambil membayangkan kekasihnya itu tengah hamil.

“Aiiihhh… kalian ini membuatku iri. Apa kau tidak kasian pada yeoja ini, hah?? Dia masih belum punya kekasih,” kata Syhae. Dia menggembungkan pipinya dan sedikit manyun.

“Ah, bagaimana kalau kau pacaran saja dengan Eunhyuk hyung??” tawar Kyuhyun tiba-tiba.

“Eummm..” Syhae berpikir sejenak, memikirkan monyet yang wajahnya juga menggodanya. “Geurae, akan aku pertimbangkan,” lanjut Syhae.

Kyuhyun tersenyum lebar kegirangan, namun ketika ia hendak membuka mulut, Syhae buru-buru menimpalinya.

“Setelah penyakit pelitnya itu minggat tentunya.. hahaha.. saking pelitnya, bisa-bisa kami hanya makan ramen 1 mangkuk berdua saat kencan nanti,” Syhae terkekeh tanpa sadar kalau makhluk yang sedang ia bicarakan itu ada dibelakangnya.

‘emuuuaaacchh’ Eunhyuk mengecup pipi Syhae.

“Pagi, cintaaaaaaaaaaaa….” Sapa Eunhyuk merangkul Syhae.

“Cuiihh!! Cinta. Cinta,” gerutu Syhae. “Berhentilah menodai pipiku dengan ciuman yadongmu itu, oppa!” ucap Syhae mengancam.

“Heh, cobalah untuk menerima cintaku Syhae, jangan cari yang tidak ada. Aku tahu kau sangat terpesona denganku saat kau melihatku di MV Neorago dan Sorry Sorry, kan?” tebak Eunhyuk.

“Ah, aniya. Tentu saja bukan kau yang kulirik,” bantah Syhae dengan sedikit gelagapan karena semua yang dikatakan Eunhyuk itu benar.

“Jangan bilang kalau Donghae!” ucap Eunhyuk keceplosan. Seketika itu pula Eunhyuk menutup mulutnya, menyesal dengan kata-katanya yang barusan keluar dari mulut embernya. Ia melirik ke Kyuhyun yang menatapnya tajam, seolah berkata ‘Mulutmu Harimaumu, Lee HyukJae’.

“Sy~ah. Mianhae, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya__

“Gwenchana, oppa. Dia….adalah masa laluku,” ucap Syhae lirih. Kepalanya terasa sakit saat nama itu disebut.

“Ahhh… Aku tidak apa-apa. Sungguh,” ucap Syhae lagi. Kyuhyun dan Eunhyuk menatap Syhae iba.

“Yyaa!! Jangan menatapku seperti itu. Apa kalian tidak bisa berhenti mengasihani yeoja pincang sepertiku, hah??” kata Syhae sambil beranjak dari kursinya, meraih tongkat penyangganya dan menuju ruang tv. Diraihnya remote tv plasma berukuran 32 inch yang berada di meja. Sementara Kyuhyun asyik menjitak dan menceramahi Enuhyuk atas perkataannya barusan.

“Oppa, aku akan menyalakan tv sekarang…..” teriak Syhae kencang, memastikan kalau dua namja itu mendengarnya. Sejak Syhae pulang dari rumah sakit, dia dilarang menonton tv, membaca majalah, dan memegang ponsel, bahkan fasilitas internet di rumahpun diblokir sementara oleh Kyuhyun dan Siwon.

“ANDWEEEE!!!!!” teriak Kyuhyun dan Eunhyuk serentak. Mereka berdua langsung lari tunggang langgang dari posisi masing-masing menuju tempat dimana Syhae berdiri memegang remote. Saking paniknya, sampai-sampai mereka berdua bertubrukan dan jatuh saling tindih.

“Upss!! Mian, aku sudah memencet tombol on-nya, hehehe~” ucap Syhae dengan wajah innocent-nya.

‘ting tung’

“Eh, sepertinya ada tamu, biar aku saja yang membuka. Sebaiknya kalian berdiri, posisi kalian itu……. sangat tidak sedap dipandang,” ucap Syhae. Kyuhyun buru-buru menyadari kalau Eunhyuk sedang berada di atasnya. Di dorongnya Eunhyuk hingga membentur sofa.

“Neo micheoso?? Sakit tau!!” umpat monyet itu pada Kyuhyun.

“Mian. Tapi itu demi keamanan kita berdua. Aku tidak ingin tamu itu berpikir yang aneh-aneh saat melihat posisi kita berdua tadi,” ucap Kyuhyun.

“Wae? Kenapa kau?” tanya Eunhyuk saat melihat Kyuhyun terbelalak kearah tv.

“Hyung, itu…itu… cepat matikan tv-nya!! Paliwaaa!!!!!” bisik Kyuhyun, memastikan Syhae -yang sedang berjalan menuju pintu- tidak mendengarnya. Dengan sigap Eunhyuk melompati sofa yang tadi ditubruknya dan melompati meja layaknya monyet sungguhan. Buru-buru ia menekan tombol on-off pada tv plasma di dinding rumah Syhae itu.

“Fuiihh!! Aman!” ucap Eunhyuk mengelus dadanya lega.

“Oppa???” kata Syhae di depan pintu.

Eunhyuk dan Kyuhyun buru-buru melihat kearah pintu. Dan mereka baru sadar kalau usahanya yang tubruk-tubrukan dan melompat-lompat itu sia-sia sudah saat melihat sosok namja yang sekarang ada di depan Syhae.

“KYAAAA~~~ game is over!!” gumam Kyuhyun.

“Pabo! Kenapa namja itu muncul sekarang?” kata Eunhyuk mengagaruk-garuk kepalanya.

[Syhae POV]

“Oppa???” ucapku tak percaya. Melihat namja itu kini berdiri di depanku. Namja yang membuatku harus duduk manis dirumah karena pegelangan kaki kiriku yang retak. Namja yang selama ini kuimpikan utnuk menjadi pendamping hidupku untuk selama-lamanya. Namun apa daya, namja yang ada di depanku sekarang sudah menjadi suami orang lain. T.T

“Syhae, apa yang terjadi padamu??” tanyanya. Seikat bunga mawar yang ia bawa tadi jatuh. Tangannya langsung meraih bahuku, memegang kepalaku yang diperban, melirik ke kakiku yang di gips secara bergantian.

“Gwenchanayo?? Apa yang terjadi?? Kenapa kau tidak mengabariku, hah?” tanya Donghae.

“Nee, nan gwenchana, oppa.”

“Anio. Kau tidak sedang baik-baik saja, Kim Syhae!” ucap Kyuki tiba-tiba muncul dari balik tubuh Donghae.

“Oppa, kenapa kau muncul lagi di depan Syhae, hah? Apa tidak cukup membuat Syhae seperti ini?” cerosos Kyuki berapi-api.

“Kyuki~ah, geumanhae,” kataku.

“Na? Waeyo? Aku yang membuat Syhae seperti ini?” tanya Donghae.

“Keurom, Syhae kecelakaan saat mengejarmu ke bandara 3 bulan yang lalu,” ucap Kyuki.

“Mengejarku? Untuk apa?”

“Paboya, Lee Donghae!!” ucap Kyuki benar-benar marah. “Bahkan Syhae bisa koma selama 2 bulan hanya untuk mengatakan__

“Aahh, kenapa bicara diluar? Masuklah oppa,” aku menarik lengan Hae sementara mataku mengirimkan sinyal pada Kyuki –jangan-mengatakan-apa-apa-padanya-

Aku tak ingin pria ini mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Ciaah! Bisa jatuh harga diriku. Lagipula itu tak akan ada gunanya sekarang. Nasi telah menjadi bubur.

***

. : 2 months later : .

‘Hakyo terlibat perselingkuhan dengan salah seorang pengusaha di Taipei’

Kata-kata itulah yang hingga detik ini membuatku tak percaya. Donghae dikhianati. Bodoh sekali wanita yang memperlakukan pria seromantis Hae seperti itu. Donghae membatalkan pernikahannya. Dan aku kini mengerti kenapa Siwon oppa dan Kyuppa melarangku menonton tv, memegang ponsel, bahkan internet. Karena berita batalnya pernikahan Hae batal. Mereka tidak ingin aku kembali berharap. Karena itu akan membuatku semakin terpuruk.

“Khaja!!” kata Donghae menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Aku memperhatikan tangannya yang menggenggam erat tanganku. Aneh memang. Dia bukan kekasihku tapi tingkahnya lebih mirip seperti seorang suami. Sikapnya yang seperti inilah yang sering membuatku salah tingkah. Dia seolah-olah memberi harapan padaku. Tapi inilah kenyataannya, dia masih mencintai Hakyo. Wanita yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya dua kali. Ckckck..entah mantra apa yang digunakan yeoja itu hingga Donghae cinta mati padanya. Dan ‘ckckck’ lagi, betapa malangnya gadis sepertiku yang menengadahkah tangan berharap mendapatkan cinta dari namja itu. Dan entah apa yang ada di otakku, masih saja mengharap balasan cinta darinya. Padahal ada Jiyong oppa yang kukenal lebih dulu daripada Donghae. Atau si gokil Hyun joong oppa, yang ternyata tak selembut karakternya di serial Kkot Boda Namja. Aaah, kenapa hatiku tak bergeming saat melihat dua namja itu? Dan malah teguh pada pandanganku, Lee Donghae. Naega paboya? Hah? Adakah seseorang yang akan menyadarkanku?

Setelah berita batalnya pernikahan Super Junior Lee Donghae mencuat beberapa bulan lalu, aku jadi sedikit was-was saat jalan bersamanya. Walaupun beberapa orang sudah tahu posisiku diantara member Suju, tapi tetap saja itu terasa berbeda. Terlibat skandal dengan salah satu member boyband itu bukanlah perkara yang mudah. Kehidupan pribadimu akan terusik. Belum lagi jika ada fans fanatic yang tidak rela saat mengetahui biasnya memiliki hubungan dengan seorang gadis, kau bisa mati. Ckckck.. aku sendiri heran, kenapa mereka bisa bersikap seperti itu? *nyindir author*

“Donghae~ssi…”

“Eung?” aku menoleh kearah suara itu. Panjang umur. Baru saja kupikirkan, kenapa tiba-tiba wanita itu mendadak ada di depan mata? Apa dia terbang langsung dari Taiwan saat aku memikirkannya??

“Bisa kita bicara sebentar?” ucapnya pada Donghae yang membuang muka.

“Kajja!!” Donghae menarik tanganku tanpa menghiraukan wanita itu.

“Jebal.. Hanya 10 menit saja,” ucapnya lagi. dan sekarang, tangannya sudah menahan tangan Donghae yang masih menggandeng tanganku.

“Untuk apa kita bicara lagi? tidak cukupkah kau menyakitiku? Mempermalukanku?” Donghae menepis tangan Hakyo.

“Aku punya alasan yang masuk akal untuk melakukan semua itu. Jadi, kumohon, kita perlu membicarakannya.”

Donghae melirik kearahku, kemudian menatap Hakyo lagi.

“Joha, tapi aku hanya punya 5 menit. Aku tak ingin gadis ini berjamur menungguku,” ucap Donghae sambil menatapku dalam. Entah apa lagi maksud tatapannya itu.

“Syhae~ya, tunggu aku sebentar ya. Aku tak akan bicara lama dengannya,” ucapnya sambil mengacak rambutku.

“Lama juga tak apa. Aku bisa pulang sendiri kok.”

“Shireo! Jika kau berpindah tempat satu meter saja, aku akan membuat perhitungan denganmu, arachi??”

“Cish!! Nuga? Pacar bukan! Sok ngatur-ngatur! Urus saja yeojamu itu,” ucapku ketus menunjuk Hakyo di ujung sana dengan gerakan mataku.

“Neo!! Sej__

“Arasseo..arasseo.. aku akan menunggumu di sini. 5 menit, kan? Satu detik saja kau terlambat, kau tak akan melihatku lagi di sini. Hush! Hush!!”

Kudorong-dorong dia supaya segera menemui Hakyo yang sudah menunggu di seberang sana. Aku heran dengan Donghae. Benar-benar tipe lelaki yang setia.

3 menit…

5 menit… 10 menit…

Aku bolak-balik melirik jam tanganku. Nampaknya pembicaraan mereka begitu serius. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya melihat Hakyo sedang menangis sekarang. Lalu.. Donghae memeluknya. Dan sekarang, hatiku yang menangis menyaksikan adegan itu. Salahku juga, kenapa aku mau menunggu sepasang kekasih..-eumm..ara..mantan sepasang kekasih- sedang berdiskusi memperbaiki hubungan mereka.

“Ayo pulang!”

“Eh? Eh?? Ya! Ya! Nuguya??” aku meronta saat seseorang yang menggunakan mantel bertudung lengkap dengan kacamata cokelatnya menarikku untuk mengikutinya.

“Ini aku,” ucapnya sambil menurunkan sedikit kacamatanya hingga aku mengenali matanya. Cho Kyuhyun. Aku menahannya sejenak.

“Wae? Ppali!!” ucapnya dan menarikku tanpa ampun.

@ My Home, 15 menit kemudian…

“Sedang apa kau malam-malam begini berkeliaran di situ?” tanyanya saat menaiki tangga teras rumah.

“Cish! Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku. Kau sendiri berkeliaran ditempat ramai seperti itu, apa kau ingin mati di cakar-cakar Sparkyu-mu itu?” berharap kali ini Kyuhyun akan kalah dengan pertanyaanku itu.

“Aissh! Tak kukira membawamu pulang adalah sebuah kesalahan terbesar. Seharusnya kubiarkan saja kau menonton drama korea terbaru itu, main cast : Lee Donghae dan Jung Hakyo. Agar kau bisa ikut larut dengan kisahnya dan menangis tersedu-sedu,” ucapnya.

Aku tertunduk. Hati yang sudah kupersiapkan untuk menerima kemenangan dari Cho Kyuhyun tiba-tiba berubah. Aku duduk ditangga teras rumahku, teringat mereka berdua.

“Semakin kecil peluangku untuk mendapatkannya,” gumamku.

“Mwo?? Kau masih saja mengharapnya?”

Dia ikut duduk disampingku.

“Ya! Kim Syhae, jika kau masih menganggapku sebagai kakakmu yang paling tampan, sebaiknya kau turuti perkataanku. Berhentilah meraih sesuatu yang terlalu tinggi, akan__

“Akan sakit jika aku terjatuh nanti, kan? Arayo, oppa. Ara.. tapi aku tak bisa menutupi perasaanku. Aku sendiri tidak tahu apa alasanku sampai bisa jadi seperti ini.”

Mataku mulai panas. Sepertinya malam ini aku akan menangis lagi gara-gara ikan sialan itu.

“Uljima. Mianhae.. aku hanya tidak ingin kau terluka terus menerus. Aku tahu kau begitu mencintai hyung. Tapi kau bisa melihatnya sendiri, walau sudah dua kali tersakiti pun hyung masih luluh dengan Hakyo nuna,” ucap Kyuhyun mengelus punggungku. Kurasa ia akan memelukku, namun buru-buru kutepis tangannya.

“Shireo! Aku tak ingin Kyuki salah paham jika melihatnya. Walau bagaimana pun juga, aku ini bukan adik kandungmu. Aku hanya tidak ingin menambah keruh semua yang baik-baik saja,” ucapku. Aku masih tertunduk. Terisak pelan.

“Mana mungkin dia salah paham, dia akan mengerti, dia tahu kau adikku,” ucapnya lagi. Bersikeras ingin meminjamkan bahunya untukku. Aku tahu dia menyebalkan dan cuek. Tapi lelaki ini paling tidak bisa melihat tangisan seorang wanita. Itulah yang jadi senjata andalan Kyuki kalau Kyuhyun tidak mau mengalah.

“Geumanhae. Sebaiknya oppa pulang saja. Nan gwenchana, oppa.”

Kudengar langkah kakinya semakin menjauh setelah tangannya mengelus punggungku. Dia sudah hapal betul apa mauku. Di saat begini, aku paling ingin sendirian, berdiam diri di rumah.

***

@ Dorm Suju, keesokan harinya…

“MWOYAA???” pekik delapan namja itu berbarengan. Sementara aku, wajah tanpa ekspresi dengan hati yang terkoyak saat mendengar pernyataan dari Donghae. Apa yang dia katakan barusan? Dia akan kembali pada Hakyo??

“Neo!! Aiisshh.” Shindong menyomot roti panggang lalu pergi. Nampaknya ia enggan menasehati Donghae lagi.

“Apa sudah…kau pikirkan matang-matang, Hae~ya?” tanya Leeteuk searaya melirikku.

“Mollayo, hyung. Aku masih bingung,” jawab Donghae.

“Apa..kau tidak memikirkan yang ada disekitarmu?” tanya Sungmin, lagi-lagi melirik kearahku. Ara..ara.. akulah yang mereka maksud. Mereka semua tahu tentang perasaanku pada Donghae, tapi tidak dengan tersangka utamanya. Aku meminta agar hal ini menjadi rahasia. Aku ingin Donghae mencintaiku karena perasaannya sendiri, bukan karena efek dari ‘pemberitahuan’ dari member lain.

“Dasar namja payah!” ucapku. Semua mata tertuju padaku.

“Jika kau benar-benar masih mencintainya, kau harus memastikan kalau dia tidak akan menyakitimu lagi. Kalau perlu kalian buat saja perjanjian yang menyatakan jika dia mengkhianatimu lagi, sanksinya dia harus ikut wamil,” ucapku judes.

“Menyusul Heechul hyung maksudmu?” tanya Ryeowook.

“Andwe! Enak bener nyusul Chullie, dia harusnya diasingkan,” tambahku lagi. Kali ini aku sadar karena salah mengambil topik wamil, karena sepuluh hari yang lalu, kami baru saja merelakan Kim Heechul untuk menyusul Kang In wamil.

“Kim Syhae, apa kau tidak suka kalau aku kembali pada Hakyo?” tanya Donghae.

“Aku…Aku.. Aku tidak suka kalau kalian kembali bersatu. Aku hanya heran padamu. Kenapa kau masih saja setia pada orang yang jelas-jelas sudah membuatmu sakit berulang kali?”

‘uhuukh’…uhukh..uuuhukh..’

“Minnie.. rotinya..ti..dak mau..per..gi dari tenggo..rokanku.. air..air..ppaliiii..Lee Sung…miin,” erang Kyuhyun. Dia pura-pura tersedak, padahal dia hanya makan secuil roti. Jadi bagaimana mungkin rotinya seret?

“Cish! Ya! Cho Kyuhyun, aku tahu kau sedang menyindirku.” Gumamku dalam hati.

“Kau menyindir dirimu sendiri, Syhae~ya!” kata Yesung membuatku menelan ludah.

“Nee?? Kim Jong Woon…beruntunglah karena istrimu tidak ada di sebelahmu kini. Jika tidak, dia akan menginjak kakimu sekuat tenaganya.”

“Keurom, kau berlagak menasehati Donghae, sedangkan kau sendiri melakukan hal yang sama sepertinya. Kau juga bertahan untuk mencintai seseorang yang jelas-jelas sering membuatmu sakit, keuraechi??”

Eottokhe?? Benar apa yang dikatakan Yesung oppa. Aku mengatai diriku sendiri.

“Keu-Keurom..” aku mengambil napas agar terlihat senatural mungkin. “Hajiman.. Seperti kata ‘seseorang’ tadi malam, aku akan melupakannya. Aku tidak akan menggapai sesuatu yang terlalu tinggi untuk kugapai.” Aku melirik Kyuhyun yang tersenyum pahit mendengar kata-kataku barusan.

“Jinjayo? Hyungdeul, mari kita lihat secepat apa Kim Syhae bisa melupakan namjanya itu,” ucap Kyuhyun dengan evil smilenya. Aku tak suka senyumnya kali ini. Seolah-olah dia bertaruh dengan para hyungnya. Dan sepertinya dia merasa dia akan menang dalam game kali ini.

“Ya! Syhae~ya, kau sedang naksir seseorang? Kenapa kau tidak memberitahu aku?” tanya Donghae.

“Itulah akibat tidak memperhatikan sekitarmu, Lee Donghae,” ucap Sungmin mengulang kata-katanya. Lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

“Mianhaeyo, aku terlalu sibuk dengan urusan pribadiku, tadi malam__ ya! Kim Syhae! Pergi ke mana kau tadi malam, hah?” Donghae tiba-tiba teringat dengan perjanjian kami tadi malam.

Ponselku bergetar..

I found the way to let you leave

I never really had it coming

“Kau membiarkanku kedinginan diluar sana, menyaksikan kalian berdua berunding,” ucapku.

 

I can’t believe the sight of you

I want you to stay away from my heart

“Kau tak menepati janjimu, jadi aku saja yang menepati janjiku. Aku pergi setelah menunggumu selama 10 menit,” lanjutku. Segera aku menuju sudut ruangan, kuraih ponselku diatas meja yang sedari tadi teriak-teriak.

“Yoboseyo?? Jinja?___kau sudah mendapatkan tiketnya??__joha, aku akan segera ke sana__”

Aku meraih tas punggungku dan juga mantelku, tanpa mengucapkan apa-apa lagi kutinggalkan mereka semua dengan ponsel yang masih menempel ditelingaku. Hariku kacau!

[Syhae POV End]

***

Kyuki membuka pintu apartementnya dengan tergesa-gesa. Dia tahu tamunya itu adalah sabahatnya sendiri, Syhae. Terakhir yang Kyuki dengar hanyalah isakan chingunya itu via telepon. Dan benar, Syhae sedang menangis.

“Sy-Syhae? Neon gwenchana? Waegeurae?? Apa? Apa yang terjadi??” tanya Yevi sesampainya Syhae didalam.

“Sssttt..tenangkan dirimu dulu. Minum ini!” Kyuki menyodorkan segelas air putih pada Syhae.

“Tiket? Tiket apa? Aku nggak ngerti,” tanya Yevi bingung karena di telepon tadi Syhae teriak-teriak masalah tiket.

“Apa kau yakin dengan apa yang dikatakan Donghae? Atau jangan-jangan kau salah dengar kali,” kata Kyuki memulai pembicaraan.

“Haa?? Aish! Namja itu lagi, kan? Selalu dia!” rutuk Yevi.

“Ssstt..ribut!” sela Kyuki.

“Ani.. aku mendengarnya langsung dari Donghae oppa. Ada kemungkinan baginya untuk kembali lagi pada Hakyo.”

“Syhae, aku tahu aku tidak berhak bicara seperti ini, tapi kalau boleh aku sarankan, lupakanlah dia. Buang jauh bayangannya dari hidupmu,” kata Kyuki.

“Jika itu mudah, aku tak perlu menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu, Ki,” jawab Syhae. Dia terus menerus terisak.

“Dasar gadis bodoh! Siapa dia? Bisa-bisanya kau menangis hanya gara-gara dia. Tak adakah pria yang lebih pantas menerima airmatamu ini?”

“Yevi~ah!” tukas Kyuki.

“Wae? Waeyo?!! Sampai kapan kau akan terus-menerus seperti ini, Kim Syhae? Sampai kapan kau akan menangisi pria yang bahkah tidak tahu apa yang kau rasakan terhadapnya?? Come on! Kau hanya membuang-buang airmatamu, Syhae~ya!” kata Yevi. Seketika isakan Syhae tak terdengar lagi. Syhae memandang wajah temannya itu.

“Geurae. Aku bodoh. Donghae tak pernah tahu perasaanku. Jadi untuk apa aku menangisinya. Hhhuuhh… beruntungnya kalian yang sudang memiliki namja-namja itu,” kata Syhae merujuk pada Kyuhyun dan Yesung. “Tapi aku datang kemari untuk mencari tempat untuk ngomel, bukan untuk diomelin. Jika aku tahu begini, aku tidak akan datang kemari tadi. Mianhae.”

Raut wajah dua gadis itu berubah menjadi wajah-wajah bersalah. Mereka sadar seharusnya detik pertama yang mereka lakukan adalah tidak memarahi Syhae.

“Mi_

“Anio,” Syhae memotong kalimat Yevi. “Aku hanya ingin kalian sejenak membayangkan, bagaimana kalau kalian jadi aku? Bagaimana kalau Yesung kembali pada Solki ataupun Kyuhyun kembali pada Haneul??”

Kyuki dan Yevi saling tukar pandang, berpikir sejenak.

“Kenapa jadi bawa-bawa Yesung sama mantannya, hah? Kau tahu kan kalau aku paling tidak suka kalau pembicaraan itu kudengar lagi. Itu tidak ada hubungannya dengan masalahmu,” kata Yevi dengan nada tinggi.

“Joha! Nampaknya tak ada lagi yang akan mendukungku, tidak Cho Kyuhyun dan tidak pula kalian berdua.” Syhae beranjak dari tepat duduknya.

“Syhae~ya, bukan begitu maksud kami. Kami hanya ingin kau sadar,” kata Kyuki menatap punggung Syhae yang berjalan menuju pintu keluar.

“Gomawo, kini aku sudah sadar.”

Syhae berlalu begitu saja meninggalkan kedua temannya yang beberapa detik terakhir ini baru menyadari perbuatannya. Mereka sangat ingin minta maaf pada Syhae. Namun Syhae terlanjur merasa kesal pada kedua temannya itu. Tempat yang seharusnya menampung keluh kesahnya, namun hari ini sepertinya tempat itu sedang penuh.

“Yaa!! Eottokhe?? Kau sih!” kata Kyuki panik.

“Naega? Naega wae? Kau juga ikut andil Kyuki~ah,” kata Yevi membela diri.

“Bagaimana..bagaimana kalau Syhae kecelakaan lagi??!!! Kecelakaan sudah menjadi kebiasaan seorang Kim Syhae jika pikirannya sedang kacau,” kata Kyuki miris mengingat kecelakaan yang Syhae alami beberapa bulan lalu. Sementara Yevi masih diam tanpa ekspresi khawatir sama sekali.

“Ya! Kau ini masih peduli dengan gadis itu nggak sih??” Kyuki menjitak kepala Yevi.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Yevi mengelus kepalanya.

“Kita harus mengejarnya.”

Kyuki menyambar kunci mobil dan mengambil jaketnya. Di dalam perjalanan Kyuki tak henti-hentinya menghubungi Syhae, namun nampaknya temannya itu sedang mengalihkan panggilannya.

“Ya! Eottokhe?? Syhae tidak bisa dihubungi. Aduh..kenapa yeoja itu.. ppalli, Kyuki! Ppali!!” racau Yevi di dalam mobil.

“Ya! Jika kau tidak bisa tenang, bisa-bisa kita yang akan kecelakaan.”

“Hush! Jangan gitu ah. Amit-amit…hiiiyyy!!!” Yevi menggidik ngeri.

“Makanya jangan bawel. Lagi pula kau manyuruhku cepat-cepat, memangnya kita akan mencari Syhae kemana? Cepat hubungi suamiku!” perintah Kyuki sambil menunjuk kearah ponselnya di dashboard.

“Nee?? Suami? Nuga?”

“Cho Kyuhyun,” jawab Kyuki singkat. Tangannya sibuk menyetir, memastikan kalau dia menyetir dengan baik dan benar.

“Oh, Ara..ara..” kata Yevi menekan-nekan keypad ponsel Kyuki. “Lagian belum nikah, ngaku-ngaku Kyuhyun jadi suaminya. Di jitak Cho Ara nyaho dia,” gumam Yevi.

“Mwo?? Bilang apa barusan??”

“Ani..Aniya.. ini.. nomor ponsel Cho Ara eonni, kan? Aku akan memintanya kapan-kapan..ya..kapan-kapan,” ucap Yevi ngasal, yang penting nggak ketahuan Kyuki.

Terdengar nada sambung dari seberang sana.

“Nee, chagi?”

“Naya, Yevi,” ucap Yevi.

“Oh, Yevi. Waeyo? Kyuki~ah? Gwenchana??” terdengar suara Kyuhyun panic menanyakan keadaan yeojanya.

“Nee, yeojamu baik-baik saja. Sekarang ada yang lebih penting daripada yeojamu itu.” Kyuki melototi Yevi dengan gesture –apa-maksudmu-hah?-

“Eh? Nuguya?”

“Biasa, dongsaengmu. Apa…dia sekarang ada bersamamu?” Kyuki merebut ponselnya yang ada pada Yevi.

“Chankaman! Neo? Jigeum eodisseo?” tanya Kyuki.

“Aku di dorm bersama hyungdeul.”

“Kalau begitu jangan pasang wajah panic. Kau harus senetral mungkin agar oppadeul tidak curiga, arachi?” gaya Kyuki sudah seperti memberi nasehat pada anak berumur lima tahun saja.

“Oh, ara.”

“Kita bertemu dirumah Syhae 10 menit lagi.” Mereka mengakhiri percakapan lewat telepon.

Sementara itu di dorm…

“Aaaahhh… akhirnya aku sampai juga di sini, lelahnya mondar-mandir,” ucap Syhae meracau masuk bergitu saja sementara Eunhyuk yang membukakan pintu bengong.

“Syhae~ya, bukankah beberapa jam lalu kau pergi?” tanya Eunhyuk bingung.

“Wae? Tidak boleh aku ke sini? Arasseo, aku akan pulang,” Syhae beranjak pergi namun Kyuhyun menariknya menjauh dari member lain. Syhae dan Donghae saling pandang selama beberapa detik. Donghae merasakan ada yang aneh pada Syhae.

“Apa yang sedang terjadi pada kalian?” tanya Kyuhyun pada Syhae setelah memastikan kalau percakapan mereka tidak akan didengar oleh yang lainnya.

“Apa yang terjadi? Maksudnya?” Syhae balik bertanya.

“Yevi dan Kyuki barusan menelponku, menanyakan apa kau__

“Ah, itu. Tak apa, kami hanya sedikit bertikai. Nanti juga baikan, kau tahu kami kan?” ucap Syhae memastikan kalau Kyuhyun akan percaya pada ucapannya.

“Kau-kau habis menangis?” tanya Kyu dengan tangan yang sibuk memeriksa kelopak mata Syhae. Akhirnya ketahuan juga.

“Ah? Ketahuan, ya? Padahal aku sudah berusaha untuk menutupinya, oppa,” ucapnya tertunduk.

“Cish! Paboya! Tapi, usahamu cukup berhasil, aku saja tidak menyadari kalau kau habis menangis.”

“Lalu tadi?” tanya Syhae tak mengerti.

“Hanya perlu memancing sedikit, lalu kau akan bercerita dengan sendirinya,” ucap Kyuhyun dengan evilsmile-nya.

“Aish! Kau benar-benar menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Itulah caraku untuk mendekati gadis tertutup sepertimu, Kim Syhae. Kau orang yang ahli menyembunyikan apa yang kau rasakan. Sedangkan aku? Aku yang akan membongkarnya segera,” ucap Kyu dengan serius.

“Jika kau berani melakukannya, aku akan mencekikmu, oppa!” ancam Syhae.

“Atau malah memelukku sembari mengucapkan ‘gomawo, Kyuhyun oppa’” Kyuhyun bertingkah se­­-aegyo mungkin mengekspresikan kata-katanya barusan.

“Neo!”

“Sudahlah, kita harus kembali sebelum mereka semua mencurigai kita.” Kyuhyun berjalan menuju ruang di mana para member berkumpul tadi, diikuti dengan Syhae di belakangnya.

Ternyata member sedang asyik bergurau sambil memutar lagu-lagu album terbaru mereka. Mr. Simple, yang membuat mereka semua tidak bisa diam, satu per satu mereka pamer koreografinya masing-masing, terkadang gerakan mereka mengundang gelak tawa. Hingga sampai gilirannya si ikan mokpo yang pamer dance. Gerakannya yang terlihat seksi membuat Syhae terus menatapnya. Dia ingat betapa frustasinya dia menunggu MV Mr. Simple rilis. Matanya hanya tertuju pada Donghae. Syhae larut dalam bayangan Mr. Simple selama beberapa detik, sampai tanpa ia sadari Donghae mendekatinya.

“Syhae~ya, you turn!”

Syhae terkejut. Begitu pula member lain. Suasana gurau itu berubah seketika. Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan aneh. Merasa suasana semakin menjadi-jadi, Eunhyuk berdiri dan mematikan lagunya.

“Ya! Hyung, kenapa kau matikan lagunya. Syhae belum menunjukkan gerakannya,” ucap Donghae.

“Tidak ada gerakan lagi. Sudah selesai,” jawab Eunhyuk dengan wajah yang berubah muram.

“Apa maksudmu, hyung? Bukankah kau yang paling antusias mengajak Syhae ngedance?” goda Donghae. Nampaknya Donghae belum mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya.

“Kenapa kalian diam saja?” tanyanya lagi. “Syhae~ya, kenapa kau tidak menari?”

Seketika Syhae menangis dan berlari pergi meninggalkan mereka semua.

“Yaah, pergi lagi deh,” gumam Shindong.

“Syhae.. Kim Syhae..” panggil Donghae. “Kenapa dia? Kenapa dia malah menangis?”

“Kau ingin tahu kenapa dia menangis???”

“Eunhyuk~ah!!” Leeteuk menyuruh Eunhyuk untuk tetap diam, menjaga rahasia Syhae.

“Ani, hyung! Sudah saatnya dia mengetahui semuanya.” Eunhyuk mengindahkan perintah leadernya yang sudah panik itu.

“Waegeurae? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Donghae semakin bingung.

“Syhae tidak akan bisa menari lagi,” kata Eunhyuk.

“Mwo??” Donghae terkejut. “Tapi kenapa?”

“Kecelakaan itu membuat otot pergelangan kaki kirinya sedikit bermasalah. Kata dokter, jika dipaksakan untuk menari lagi, kecil kemungkinan untuk Syhae dapat berjalan dengan normal lagi,” jelas Eunhyuk.

Donghae terduduk lemas mendengarnya.

“Dia menangis semalam suntuk saat mengetahui kalau dia tidak bisa menari lagi,” lanjut Eunhyuk. Dirinya pun menangis seketika saat tahu kalau Syhae itu tak akan bisa menemaninya battle dance lagi.

“Dan itu gara-gara kau, Lee Donghae!” kata Kyuhyun.

Donghae mendongak kearah Kyuhyun.

“Na? Naega wae? Kenapa selalu aku? Syhae kecelakaan gara-gara aku. Kini Syhae tidak bisa menari pun gara-gara aku? Kenapa harus aku?” Donghae berteriak.

“Karena dia mencintaimu, hyung.”

Kyuhyun tak mampu lagi menahannya. Dia mengatakan rahasia yang selama ini mereka rahasiakan bersama Syhae.  Leeteuk hanya bisa geleng-geleng kemudian menghela napasnya. Sementara member lain hanya menatap Donghae yang terkejut.

“Sy-syhae? Syhae mencintaiku??” tanya Donghae.

“Keurom. Dia menyusulmu ke bandara waktu itu, hanya ingin memelukmu sebelum kau menikah dengan Hakyo. Tidak disangka dia kecelakaan dan koma selama 2 bulan. Kami semua pesimis kalau Syhae akan sadar kembali,” jelas Kyuhyun.

Donghae masih terduduk lemas. Berulang kali meremas tangannya dan menghela napas. Menyesali karena dia tidak sadar bahwa ada yeoja yang lebih mencintainya.

“Kami sudah berusaha sekuat mungkin agar dia tidak mengetahui batalnya pernikahanmu, walaupun cepat atau lambat dia akan mengetahuinya sendiri,” Eunhyuk membantu Kyuhyun menjelaskan semuanya. “Dia kembali ceria saat kau kembali dengan berita itu, walaupun sejujurnya ia juga sedih karena kau terkhianati lagi oleh Hakyo.”

Donghae mengacak rambutnya frustasi. Tak percaya apa yang ia dengar. Ternyata selama ini Syhae berhasil menyembunyikan hatinya dengan rapi. Dan ia tak mengetahuinya, curiga pun tidak.

“Aku tak tahu apa yang ia rasakan barusan, saat kau bilang kalau kau akan kembali pada Hakyo. Setelah dia berusaha membuang bayanganmu jauh-jauh, tiba-tiba kau muncul layaknya seberkas cahaya yang siap menerangi kembali hidupnya, namun tiba-tiba pula cahaya itu hendak pergi meninggalkan dia.” Kyuhyun sangat lancar mengatakannya, tak berpikir bahwa dia sudah melanggar janjinya pada dongsaengnya itu.

“Aku…aku tak tahu harus berbuat apa. Aku sadar kalau aku seolah memberi harapan padanya waktu itu, hingga Hakyo muncul kembali. Namun setelah menerima hal yang menyakitkan dari Hakyo, aku tak ada keinginan secuil pun untuk kembali padanya,” ucap Donghae.

“Tapi, lagi-lagi Hakyo datang dengan semua penjelasannya yang kurasa masuk akal,” lanjutnya.

“Terserah apa yang akan kau lakukan sekarang. Tapi yang pasti Syhae akan menuju Indonesia sore ini.” Perkataan Yesung membuat semua terkejut tak percaya.

“Jinjayo? Waeyo?” tanya Ryeowook.

“Kenapa dia tak memberitahuku?” tanya Siwon.

“Aku pun tak tahu,” tambah Kyuhyun. Mengingat dia adalah orang yang lebih dekat dengan Syhae dibandingkan Siwon.

“Dia mengatakannya tadi malam ditelepon, sebenarnya dia datang kemari pagi ini adalah untuk berpamitan. Tak disangka dia malah mendengar pernyataan Donghae yang mengejutkan,” jelas Yesung mentap Kyuhyun. Kyuhyun merasakan ada yang aneh dari semuanya. Namun ia tak bisa memikirkan apa-apa lagi.

“Apakah dia…akan..kembali??” tanya Ryeowook.

Yesung hanya menggelengkan kepala. “Dia tak ingin terluka untuk kedua kalinya.”

***

[Syhae POV]

“Kau akan pergi ke Indonesia kenapa tidak bilang-bilang?”

“Nee? Indonesia?” aku bingung.

“Tadi Yesung hyung___aaacchhh___dia membohongiku___” gerutu Donghae sambil mengacak rambutnya.

“Waeyo??” Aku menggaruk kepalaku yang rasanya penuh akan kejadian membingungkan hari ini. Aneh. Benar-benar aneh. Beberapa jam lalu dia mengatakan kalau dia akan kembali lagi pada Hakyo. dan sekarang dia ada di depanku menanyakan hal aneh. Apa sih maksudnya??

“Ah, ya sudahlah. Kajja! Kita pergi jalan-jalan,” ajaknya.

Di tengah perjalanan aku masih saja menanyakan maksud pertanyaanya tadi. Kenapa dia mengira kalau aku akan pergi ke Indonesia? Tapi masih saja tak mendapat penjelasan apapun dari ikan ini. Arrgghh!! Benar-benar menyebalkan.

“Eh? Kenapa kita kesini?” tanyaku saat sampai disebuah café kecil di tepi jalan. Kami duduk dimeja yang tersusun rapi di terasnya.

“Sudah, diam saja. Aku hanya ingin bersantai sejenak. Tak ‘kan ada yang mengenaliku,” ucapnya sembari membenarkan posisi kacamata hitam andalannya.

“Cish! Kacamata saja tak menjamin keselamatanmu disini,” ucapku santai. Aku mengobrak-abrik isi tas selempangku. Mencari benda yang setia menemaniku kapanpun, Ipod. Tapi sepertinya aku lupa membawanya.

“Oppa, kau ingat aku?”

Suara seorang gadis membuatku mendongak dan mengernyitkan dahi.

“Aku..aku gadis yang itu.”

“Chogiyo.. nuguya? Kurasa kau salah mengenali orang,” Donghae sekilas menoleh kearahku dan berulang-ulang memperbaiki letak kacamatanya.

Tuh kan! Gadis keberapakah ini? Cish! Bahkan kau pura-pura lupa, Lee Donghae. Dasar namja yang suka tebar pesona. Jujur, aku juga sangat tidak menyukai sikap Donghae yang satu itu. Dia begitu mempesona dan parahnya lagi, dia suka tebar pesona. Ooohhh… jika aku jadi istrinya tak ‘kan kubiarkan dia melakukannya. Terserah apa kata orang tentang pikiranku yang barusan. Aku tahu dia seorang idola, tapi jika kalian memiliki seorang kekasih yang bertingkah sama seperti Donghae, apa kalian akan akan tenang-tenang saja? Mungkin sebagian orang akan menjawab ‘iya, karena itu profesinya’. Well, terkadang aku juga berpikir seperti itu, tapi aku juga manusia, aku tak sanggup hal itu terjadi. Dan untuk gadis pencemburu sepertiku, Donghae tak akan mampu melakukannya lagi. Hahaha (-.-)

“Tidak mungkin aku salah mengenali orang, kau Lee Donghae, kan? Super Junior?” tanya gadis itu. Dari penampilannya sepertinya dia masih muda, mungkin umurnya sekitar 18 tahun-an.

“Aah, ternyata penyamaranku masih diketahui orang, ya?” ucap Donghae sedikit menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Apa kubilang!

“Apa kau ingat saat SuShow 2, kau mencium tangan seorang yeoja? Itu aku, oppa. Aku,” ucap gadis itu antusias dengan sedikit melompat-lompat di hadapan Donghae yang nyengir aneh.

“Aaaahhh… aku ingat sekarang. Jinjayo? Orang itu kau?”

“Ehm.” Gadis itu mengangguk cepat. “Hyun Jae Ra imnida. Bolehkah aku berfoto denganmu?”

“Ah, keurom.”

“Chogiyo.. Nuna, bisakah kau memotret kami?”

Hee?? Yeoja ini?? Bahkan dia menyuruhku untuk memotret mereka?? Yaa!! Jeongmal..

“Nuna?”

‘Nuna??’ memangnya wajahku setua itu, sehingga dia harus memanggilku ‘nuna’?? Aku ini baru 20 tahun.

“Chogiyo.. Nuna?” dia melambaikan tangan didepan wajahku. Dia pikir aku sedang melamun.

“Ah, yee.” Dengan berat hati aku mengambil ponsel gadis itu dan mengambil beberapa gambar mereka berdua. Donghae yang melihatku hanya nyengir dengan ekspresi mengejekku. Akan kujitak kau nanti!!

“Hana.dul.set,” ucapku cepat.

‘ckreek’

“Ja!” Kuserahkan kembali ponsel itu padanya.

“Kamsahamnida, oppa. Senang bisa berjumpa denganmu dalam keadaan seperti ini.” Gadis itu membungkuk dan tersenyum semanis mungkin di depan Donghae.

“Ah, yee. Jaga kesehatanmu, ya.”

“Nee. Annyeong,” gadis itu pergi tanpa menghiraukan aku. Malangnya nasib fotografer ini..ckck T.T

Beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia membalikkan badan dan mendekatiku.

“Nuna?”

“Nee?”

“Kau… siapanya Donghae oppa?” pertanyaan itu selalu mengikutiku.

“Dia adalah..

“Aku baru mengenalnya satu jam yang lalu, aku juga baru tahu kalau dia seorang artis” ucapku buru-buru memotong perkataan Donghae.

“Oh, begitu,” ucapnya polos. “Kamsahamnida, nuna.”

“Nee, cheonmaneyo.”

Setelah memastikan gadis itu benar-benar pergi, Donghae menatapku.

“Wae? Kenapa melotot seperti itu?”

“Kenapa kau berbohong lagi?”

“Bohong apa lagi?”

“Itu, tadi. Kenapa kau bilang kalau kau baru mengenalku satu jam yang lalu? Omong kosong apa lagi itu, hah?”

“Lalu aku harus menjawab apa? ‘aku adiknya’? mana mungkin. Kau kan anak terakhir, saudaramu hanya Lee Donghwa seorang. Lagi pula aku aku tidak ingin menjadi terkenal nantinya,” ucapku sambil terkekeh.

“Ck. Percaya diri sekali kau.”

“Keurom. Aku yakin jika aku terlihat sedang jalan denganmu, aku juga akan dikejar-kejar pemburu gossip itu.”

“Aaahhh… sudahlah. Kajja!” dia mengulurkan tangannya kearahku.

“Eodikka?” aku menatap uluran tangannya dan wajahnya bergantian.

“Pulang. Memangnya mau ke mana lagi? Tiba-tiba mood-ku berubah. Aku ingin ke rumahmu lagi.”

“Hee??” aku menatapnya heran.

“Sudahlah,” ucapnya mendekatkan wajahnya kearahku. Deg! Aigho! Jantungku berdegup kencang. Omoo! Namja ini tampan sekali. Setiap lekuk wajahnya dapat kunikmati sekarang. Aku yakin jika ada Elfishy yang mengetahuinya, mereka akan meraung-raung hingga matanya sembab keesokan harinya kekekek~

Dengan sigap dia menudungkan topi hoodie-ku ke kepalaku. “Agar kau tidak terkenal,” ucapnya singkat lalu meraih tanganku dan menarikku.

Jarak rumahku dengan café tadi memang tidak terlalu jauh, hanya memerlukan 15 menit berjalan kaki.

“Ahh, akhirnya sampai juga dengan selamat,” katanya ketika memasuki pekarangan rumahku.

“Berlebihan sekali kau,” ucapku sambil berjalan kearah ayunan kayu yang berada dipojok kiri rumahku.

“Apanya yang berlebihan? Aku hanya khawatir saja kalau sampai ada yang mengenali kita,” ucapnya. Dia langsung ikut duduk disebelahku. Kaki kami mengayun pelan ayunan itu.

“Hey..hey.. Lee Donghae. Lebih tepatnya mengenalimu saja. Yang artis kan kau, bukan aku,” ucapku.

“Hey..hey.. Kim Syhae. Ingat perkataanmu di café tadi,” balasnya menirukan perkataanku.

“Ara. Tapi yang harus melakukan penyamaran itu kau, bukannya aku,” ucapku lagi.

“Aiiyaaa!!! Kenapa yeoja ini berubah menjadi berisik dan keras kepala seperti ini! Sejak kapan dia tertular Kyuki yang pandai mendebat Kyuhyun, hah!” gerutunya.

“Aku tidak berisik. Kau yang memulainya. Kau yang mengajakku untuk berdebat. Itu kan salahmu.”

“Tuh kan! Barusan kau sangat berisik, Kim Syhae. Saat aku menyatakan cintaku padamu nanti, apa kau tetap berisik?”

“Sudah kubil___” aku menahan ucapanku. “Nee??”

“Aku tahu perasaanmu padaku. Kau mencintaiku, kan?” tanyanya sangat percaya diri. Dari mana dia tahu kalau aku mencintainya? Apa dia bertanya pada member lain atau si gadis blasteran Korea-Jepang itu? Jangan-jangan Yevi??

“Ahahahahaaaa..lucu sekali kau..” aku memukul lengannya berulang kali sambil tertawa garing berharap dia tidak melihat wajahku yang kurasa mulai memerah.

Namun pada pukulanku yang ketiga, dia menangkap kedua tanganku.

“Aku tidak sedang bercanda, Kim Syhae.”

Aku menelan ludah. Omooo!!! Dia menatapku. Oh God, eottokke?? Apa aku terlihat salah tingkah? Bagaimana kalau dia hanya mengerjaiku? Aaaacchhhh…..

“Tak mudah mencari yang hilang. Dan tak mudah mengejar impian.” Dia masih menatapku. “Aku mencari cintaku yang hilang dan mengejar mimpiku untuk menikah dengan Jung Hakyo.”

“Namun jauh lebih susah mempertahankan yang ada. Neo, Kim Syhae,” ucapnya. Sudah lama aku tak mendengar kata-kata sejenis ini keluar dari mulutnya.

“Karena yang tergenggam bisa terlepas dan yang terikat bisa terpisah.” Tanganku gemetar di dalam genggamannya.

“Pepatah mengatakan, jika kau tak dapat memiliki apa yang kau sukai, maka sukailah apa yang kau miliki saat ini. Dan aku mencintaimu, tapi bukan karena kaulah yang hanya kumiliki saat ini, melainkan karena ternyata aku mencintaimu. Takdir untuk mencintaimu, Kim Syhae. “Saranghae.” Ucapnya.

Aku terharu mendengarnya. Mataku terasa panas. Tangannya mengusap airmataku yang entah sejak kapan mulai mengalir. Dia mendekatkan wajahnya. Detik berikutnya kurasakan tangan kirinya meraih tengkukku. Mendekatkan wajahnya lagi hingga napasnya yang hangat dapat kurasakan dengan jelas. Dia….

[Flashback End]

Syhae membuka matanya pagi yang indah ini. Sedikit menggeliat untuk merenggangkan badannya sembari menguap. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun tiba-tiba..

“HHUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya. Sontak membuat namja yang ada di sampingnya langsung terbangun mendengarnya.

“Aiiishhh….. Yaa!! Kim Syhae!! Kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak, hah???” namja itu kini sudah duduk di depan Syhae dengan rambut acak-acakan.

“Neo..Neo micheoseo?? Ap-apa yang kau lakukan di sini, hah? Apa yang sudah kau lakukan padaku, Lee Donghae??” kata Syhae sambil menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya tampak sekali terkejut.

“Perrgiii!! Kau! Kau telah menodaiku, Lee Donghae!!” Syhae memuku-mukul Donghae hingga dia terjatuh dari ranjang.

“Mwoya?? Wae?” tanya Donghae sambil mengucek matanya yang baru saja melek.

“Kenapa kau bisa tidur denganku, hah???” tanya Syhae dengan nada mengintrogasi namja yang telah terduduk di bawah itu. “Tak kusangka kau tega melakukannya, oppa.” Kini ia mulai terisak kecil.

“Aish.. kau.. oohh.. jebal, Sy~ah. Jangan lagi,” umpat Donghae.

“Mwo???” Syhae tak mengerti.

“Berhentilah berteriak setiap kali kau membuka matamu dan melihatku tidur di sampingmu, Kim Syhae!!” teriak Donghae. “Bahkan ini yang ke..lima.. ani, delapan..ani, aasssshhh..sudah sering kau bertingkah yang aneh pada suamimu sendiri.”

“Eh??”

“Keurom, aku ini sudah menjadi suamimu, Kim Syhae.”

Syhae menggaruk kepalanya, berpikir sejenak.

“Joha, kau ingat sekarang?” kata Donghae memperlihatkan cincin di jari tangan kirinya.

Syhae melirik cincin di tangan namja itu kemudian melihat benda yang serupa juga melingkar di jari manisnya. Barulah Syhae sadar. Berulang kali ia teriak saat melihat Donghae tidur di ranjang yang sama dengannya. Dia selalu lupa kalau sebulan yang lalu ia sudah resmi menjadi istri dari Lee Donghae. Tepatnya pada tanggal 7 Juli 2011 lalu mereka mengucap janji setia. Donghae yang mengenakan tuxedo putih terlihat semakin tampan dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Serasi dengan pengantin wanitanya yang juga menggunakan gaun putih, berjalan menuju altar didampingi oleh ayahnya. Akhirnya selama 2 tahun pacara, mereka mendahului hyungnya, Yesung yang duluan bertunangan dengan pujaan hatinya.

“Bisa-bisanya kau lupa dengan suamimu sendiri, hah?? Bukannya memberi ciuman selamat pagi, malah teriak-teriak nggak jelas,” ucap Donghae mengacak rambutnya sendiri dan kembali naik ke ranjang.

“Ahh… mianhaeyo,” ucap Syhae lirih dan menunduk. Ia merasa sedih dan malu karena terus-terusan mengulang perbuatannya itu.

Donghae segera meraih Syhae kedalam pelukannya.

“Hmm.. gwenchana,” ucap Donghae mengelus kepala Syhae.

“Mianhae, aku selalu membuat pagimu seperti ini. Aku hanya terkejut saat melihatmu. Satu-satunya yag pernah menemaniku tidur hanya Kyuhyun oppa, itu pun saat aku deman tinggi,” jelas Syhae.

“Jinjayo? Lalu Siwon?” tanya Donghae yang masih memeluk erat Syhae.

“Dia tak pernah tidur menemaniku, takut dosanya nambah katanya.”

Donghae terkekeh mendengarnya. Kemudian ia menarik tubuh Syhae agar kembali tidur, sementara tangannya masih saja memeluk erat istrinya.

“Yaa!! Hentikan!,” pinta Syhae lirih.

“Hmm?”

“Apa kita akan terus berpelukan seperti ini, hah? Hari sudah siang, ayo kita turun,” kata Syhae yang masih berada dalam dekapan namja romantis itu.

“Shireo! Ini baru jam 6 pagi,” kata Donghae melirik kearah jam dinding. “Tetaplah seperti ini, 5 menit saja!”

Tanpa banyak ba bi bu Syhae menuruti permintaan Donghae. Dia tersenyum dan mempererat pelukannya. Gadis pecicilan yang takluk jika berhadapan dengan pria seromantis Lee Donghae.

***

Pengantin baru itu akhirnya keluar kandang juga. Donghae menuruni tangga dengan Syhae berada dipunggungnya. Dengan manja Syhae menggelayot dipunggung Donghae.

“Yaa!! Ternyata kau berat juga, yah?” kata Donghae menoleh ke wajah Syhae yang tepat berada di sebelah wajahnya.

“Hey, perhatikan saja langkahmu. Jangan sampai kau membuatku jatuh dari gendonganmu,” kata Syhae mengalihkan perhatian.

“Yup! Kita sudah sampai tujuan tuan putri. Silakan turun,” ucap Donghae saat mereka sudah sampai di dapur.

“Aku akan membuatkan panekuk untukmu,” ucap Syhae tiba-tiba.

“Mwo?? Panekuk?” tanya Donghae ragu.

“Hmm!! Panekuk saus coklat,” jawab Syhae. Kini tangannya sudah sibuk mencari-cari bahan-bahan di lemari penyimpan.

“Apa kau bisa?”

“Jangan panggil dia Kim Ryeowook kalau dia tidak bisa mengajariku cara membuat panekuk,” Syhae terkekeh.

Syhae mulai membuat sarapan untuk Hae. Tangannya dengan lihai membuat sarapan untuk suaminya tercinta itu. Dan tidak memerlukan waktu yang cukup lama panekuk saus cokelat buatan Syhae sudah jadi.

“Thadaaaaaa… panekuk saus cokelat sudah siap.” Syhae menyodorkan sepiring panekuk buatannya kearah Donghae yang masih memakai piyama yang sama dengan milik Syhae.

“Jal Meokgesseumnida..” Donghae mengunyah suapan pertamanya.

“Eottae??”

“Hmm…massita!!” jawab Donghae dengan gesture yang menunjukkan bahwa masakan istrinya itu enak sekali.

“Jinja? Kalau begitu makanlah yang banyak,” ucap Syhae menambahkan beberapa potong panekuk ke piring Donghae.

‘ting.. tong..’

“Ah, ada tamu sepertinya,” ucap Syhae saat menyuap panekuk pertamanya.

“Pagi-pagi begini?? Oh, yang benar saja,” Donghae setengah kesal.

“Gwenchana, siapa tahu tamu penting.” Syhae beranjak dari kursinya menuju pintu.

‘ckreekk’

“Annyeong haseyo……” suara riuh langsung terdengar.

“Ehh??? Kalian??? Mau apaaa??” Syhae panik saat melihat Kyu couple, Yevi, Yesung, Leeteuk, dan Eunhyuk beramai-ramai bertamu di pagi buta seperti ini.

“Yaa! Kau ini. Bersikap sopanlah pada tamumu,” ucap Kyuhyun yang langsung nyelonong masuk, bahkan Syhae belum mempersilakan dia masuk.

“Whoaaa… rumah yang manis,” ucap Kyuki dan langsung mengikuti jejak namjanya yang kurang ajar itu.

“Hyuuuuunnggg..” Kyuhyun berlari menuju Donghae.

‘uhukh..uhuukh’

Donghae tersedak.

“Omoo! Gwencahana?? Sy~ya, suamimu tersedak.” Kyuhyun menepuk punggung Hae keras hingga menimbulkan bunyi.

“Ya!! Itu menyakitkan, Cho Kyuhyun! Geumanhae!!” tepis Donghae yang langsung berdiri menghindar dari setan itu.

“Ada apa kalian datang merusak pagiku yang indah bersama istriku ini, hah?”

“Aighooo! Memangnya dunia ini milik kalian sendiri? Sampai-sampai kalian melupakan kami?” timpal Yevi.

“Keurom, masih terlalu pagi untuk mengganggu kemesraan kami.” Donghae memeluk Syhae dari belakang. Dan sesekali mencium rambutnya.

“Aiiiihhhh….jangan begitu. Ada yang merasa terkhianati nih,” ledek Kyuki melirik Eunhyuk yang manyun.

“Neo!!” tunjuk Eunhyuk pada Kyuki.

“Kyu…” rengek Kyuki pada Kyuhyun saat Eunhyuk hendak menjitaknya.

“Sekali saja kau sentuh yeojaku, aku bersumpah demi kerajaan setan diseluruh muka bumi, aku akan membuat hidupmu tak tenang, hyung!” ancam Kyuhyun sadis.

Kyuki terkekeh menang, menjulurkan lidah meledek Eunhyuk.

“Hhhhh…. Joha..joha.. Aku kalah,” gerutu Eunhyuk.

“Hey, masih ada aku, bukan?” Teuki tiba-tiba mendekati Eunhyuk dan mengedipkan matanya seduktif.

“Ya! Ya! Ya! Jangan jadikan aku pelampiasanmu, ya. Walaupun aku tahu kau kesepian setelah ditinggal wamil oleh Kangin,” Eunhyuk menjauhi leadernya yang bertingkah aegyo.

“Hahahahahaha….” Kyuhyun tertawa bangga.

“Wae? Kenapa kau tertawa seperti itu, hah?” Eunhyuk benar-benar ingin menelan magnaenya.

“Haha..aniya..hahaha..hanya saja aku kasihan melihatmu. Kau ditinggal menikah dengan couplemu yang raja skinship itu. Bahkan..hahaha.. kau sekarang harus tega melihatnya berskinship-ria dengan orang lain..hahaha.” Kyuhyun nampaknya hari ini benar-benar berubah menjadi sosok setan yang menyebalkan.

“Dia itu istrinya, bodoh!” Eunhyuk melempar bantal kearah Kyuhyun.

“Whoaaa…jadi kalian pagi-pagi datang kemari hanya untuk membuat keributan dirumah kami? Apa dinding dorm sudah tidak betah mendengar omelan kalian?” Donghae angkat bicara setelah melihat member saling mengejek.

“Nah lo.. Raja Mokpo lagi marah. Siap-siap tsunami melanda Seoul,” ledek Yevi yang dari tadi duduk manis di sofa bersama Yesung.

“Ah, mainhae. Sebenarnya kami hanya ingin memberi kalian ini,” ucap Leeteuk sambul menyodorkan bungkusan berwarna orange.

“Ige mwoya?” tanya Syhae.

“Bukalah!” perintah Teukie.

Dengan penasaran Syhae membukanya.

“Aaahh… apa-apaan ini???” Syhae syok melihat apa hadiah yang diberikan oleh mereka. Syhae sedang memegang figura berukuran poster. Didalamnya terpampang beberapa foto berukuran kecil di tepi. Foto Syhae sedang menatap Donghae, Donghae sedang memandang Syhae yang sedang tidur, Syhae menyiram Hae dengan air saat mencuci mobil, Donghae memeluk Syhae dari belakang saat di toproof dorm. Dan di tengah-tengah ada foto mereka berdua yang paling manis, siluet mereka sedang……kisseu di pantai.

“Ini..Ini.. dari mana kalian mendapatkannya???” teriak Syhae.

“Hehehe… semua itu ideku,” ucap Kyuhyun.

“Ide yang brilliant, bukan?” timpal Kyuki.

“Ahaha.. sangat brilliant, Kyuki~ah. APA TIDAK ADA HADIAH YANG LEBIH MENGEJUTKAN LAGI, HAAAH???” teriak Syhae. Dia malu karena selama ia sedang jalan dengan Hae, mereka membuntuti dan mengambil foto mereka diam-diam. Bahkan adengan ciuman pun tak mereka lewatkan.

“Kalian membuntuti kami dan memfotonya secara diam-diam??” tanya Donghae.

“Ya iya dong,” ucap Yevi bangga.

“Aaahh.. gomawo. Hadiah ini akan kami simpan baik-baik,” ucap Syhae.

“Terima kasih karena sudah mengabadikan cerita cinta kami,” ucap Donghae meraih pinggang yeojanya dan menciumnya dalam-dalam. Syhae membalas perlakuan suaminya itu dan melingkarkan tangannya dileher Donghae. Tak peduli beberapa pasang mata sedang menonton adegan manis itu. Toh, mereka mungkin sudah terbiasa menontonnya secara diam-diam saat misinya mengumpulkan foto-foto itu.

“Aaahh.. hyung, temani aku mengambil anggur di mobil,” ucap Eunhyuk keki menarik lengan Teukie.

Yevi tersenyum santai di sofa melihat dua insan di depannya itu dan kembali membaca buku ditangannya. Namun namjanya, Yesung tak mau membuang kesempatan.

Di meja makan mata Kyuki membulat untuk kedua kalinya. Sepasang lagi yang mengulangi adegan HaeSy couple barusan.

“Aigooo.. mereka ini,” gumamnya.

“Wae? Kau ingin melakukannya juga??” tanya Kyu yang duduk di sebelahnya.

“Ya! Jika kau berani maju satu centimeter sekalipun, mati kau, Cho Kyuhyun!!” ancam Kyuki memegang garpu.

“Joha!” Kyuhyun menahan kuat tangan Kyuki.

Secepat kilat Kyuhyun melakukan tantangan dari kekasihnya itu. Dan kali ini dia mendelik tanpa protes. Evil itu melakukannya.

Kyuhyun terkekeh.

“Sudah. Aku sudah melakukannya. Kau tidak ingin membunuhku?”

“CHO KYUHYUUUUUNNN!!!!!”

Kyuki menghujani Kyuhyun dengan pukulan. Donghae dan istrinya hanya tertawa melihat tingkah pasangan yang satu itu. Tak pernah akur.

“Ya! Nona Chae, bukankah kalian sudah bertunangan? Jadi kenapa Kyu menciummu saja tidak boleh?” ucap Hae.

“Ya-ya… karena aku tidak mau,” sungut Kyuki.

“Tidak mau kalau cuma sekali, yaaa???” goda Kyuhyun.

“Kali ini aku benar-benar murka, Tuan Cho.” Kyuki mengangkat botol saos yang siap dilemparkan pada Kyu.

“Ah.. Joha.. joha.. mian..jeongmal mianhae, Nona Chae,” kata Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya.

Syhae dan Donghae tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan C-Kyu couple itu.

“Donghae~ya, kurasa kalian kedatangan tamu lagi,” ucap Leeteuk saat dia masuk.

“Tamu?? Siapa, hyung?” tanya Donghae.

“Annyeong haseyo, Donghae~ssi, Syhae~ssi,” sapa seorang gadis yang dulu pernah menjadi rival Syhae, Jung Hakyo.

Kyuki yang tadi sibuk memukuli Kyuhyun kini terbelalak dengan mulut komat-kamit sebal saat melihat Hakyo datang. Sedangkan Yevi yang baru saja melihat mimik wajah Kyuki langsung menoleh kearah mata yang dituju Kyuki. Dan reaksinya pun sama.

‘Jung Hakyo! Untuk apa kau muncul lagi, hah??’ batin Kyuki.

‘Jika tahu kalau nenek sihir ini akan datang, aku akan menggembok pagar rumah Syhae’ batin Yevi.

‘Darimana dia tahu rumahku? Dan untuk apa dia datang kemari? Apa kali ini dia masih ingin melaksanakan ancamannya dulu? Kali ini apa lagi yang akan dia lakukan??’ Syhae diliputi banyak pertanyaan di benaknya.

= TBC =